Memoir

June 28, 2011

I don’t know if anyone still blog, or even read blogs these days. I do realize that WordPress and Blogspot is no longer a hip, and I do realize that now people Tumbld (past tense for Tumblr, I made that up) if they have something to say above twitter’s 140 characters restriction. I did Tumble (another one I made up), not working though.

Gue lebih suka ngepost teks dibanding gambar-gambar (yang padahal di gambar itu isinya teks juga). Dan dengan fitur Reblog, rasanya ngepost tuh kayak gak ada effortnya, sama aja kayak ngeretweet di twitter. Sebenernya itu yg mau kita omongin, but someone else’s put it in better words, or maybe we’re just lazy.

It’s just not for me.

And so I went back to my old friend, this very blog. So damn old and dusty, yet so damn nostalgic. Every unimportant, random, and jaman-jamannya-galau posts, they took me on a time-travel journey, from back then until back here.

Gak tau juga sih bakal bisa keurus sepenuhnya lagi atau enggak. Ngeblog itu bukan kayak penulis yang punya semacam kontrak buat bikin buku atau ngisi kolom secara reguler. Karena suka-suka, jadinya kayak gak punya beban buat ngupdate, apalagi kalo gak ada yang komen. *curhat*

But I promised myself one thing, and one thing only:

I’ll blog when my heart calls me to.

Happy reading!

The Yellowstrings

May 10, 2009

Assalamualaikum!

Hah, gue mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk kembali membuat sebuah artikel. Setelah kemaren bolak-balik jakarta-bekasi di HUT Labiba Hanani yang ke 17, barusan bolak-balik Jakarta-Puncak buat survey tempat.

Sebenernya sih tinggal duduk aja di mobil, tapi karena semobil dengan orang-orang tolol, dan guenya juga tolol, maka survey tadi isinya cuma gelak tawa, dan wisata kuliner. Dan teori gue kembali terbukti, UDARA DINGIN MEMBUAT MANUSIA LEBIH KONSUMTIF.

So, what’s up with the title?

Oke, gue jelasin. Marilah kita sambut,

The Yellowstrings!

Band yang mencoba menjajaki jalan panjang menuju ketenaran ini digawangi oleh Rein yang berceloteh pada mike, Desak dan Tyo sebagai pemetik dawai gitar, Dika penggebuk drum. Dan tentu saja saya sendiri (masa berdua), Adi Kadarisman sebagai pembetot bass.

Kita berlima bergabung buat gigs kreasinya anak-anak 81, Mengusik Musik, tanggal 19 April kemaren, sehari sebelum UAN. Ya bodo amat, gue gak UAN juga. Tadinya Yellowstrings merupakan grup dengan format duo-akustik, gitar dan vokal. Tapi si Desak pengennya main full band di gigs. Jadilah dia hunting personil, dan gue salah satu yang terjaring buat jadi bassis. Yowes.

Vokalis lamanya The Yellowstrings, Janit, pindah ke Surabaya. Jadilah si Desak ngegandeng Rein buat jadi vokalisnya. Dan pas gigs kemaren, si Janit lagi ada di Jakarta, jadilah kita menduetkan Janit dan Rein di satu panggung buat main lagu Drew yang judulnya Unromantic.

Sebelum gigs, gue belum pernah latihan bareng Rein, apalagi Janit. Jadi pas naik panggung itulah pertama kali kita main bareng. Untungnya lancar.

Dan Myspace nya baru aja diupdate 1 lagu baru, judulnya Biar, dengan format full band tadi. So be sure to check out The Yellowstrings on Myspace! Dan Jangan Lupa kasih Komen! Kalau mau komen disini juga gapapa!

ADIos!

Lelaki

March 25, 2009

Maaf buat para penggemar yang sudah mengirimkan protes melalui surat ke ‘PO Box obox airnya diobox-obox’ karena blog gw yang ini sudah lama tak ada update.

…blog gw yang ini sudah lama tak ada update.

Emang ada blog yang lain?

Yep, now there is! Blog gw yang baru diberi nama ‘kaleidoskop’. Kalau mau lihat-lihat, silakan diklik.

Kok bikin blog baru? pindahan?

Iya, gw pindahan ke blog M.

Gak kok, kaleidoskop sendiri tujuannya bukan buat menghibur pembaca atau memberi informasi, tapi lebih kepada catatan hidup yang dikemas dan diremas-remas dengan kata-kata yang gemas sehingga menjadi emas. Kejadian-kejadian hidup yang digambarkan dengan tidak gamblang seperti blog ini. Selain itu juga menjadi sarana publikasi buah tangan gw sebagai penulis pengetik.

Coba diintip ya, kawan-kawan!

Blog gw dua-duanya aktif kok, gw bakal posting secara berhala.

Salah, maksudnya berkala.

Kembali ke judul. Apa yang mau gw bahas?

Yaitu tentang lelaki, dilihat dari sudut pandang gw sebagai lelaki yang telah menjalani pahit getirnya jadi ‘mahluk batangan’.

Ini cuma perspektif gw, gak semua yang gw tulis sesuai dengan kenyataan.

Nabi Adam, manusia pertama di dunia, adalah seorang lelaki. Ayat Al-qur’an mengatakan bahwa lelaki adalah imam, pemimpin. Sebagian agama juga mempercayai Tuhan mereka sebagai sesosok lelaki. 

Kenapa?

Tak tahu.

Lelaki dikatakan lebih menggunakan logika dibandingkan perasaan, sehingga berpikir lebih taktis. Lelaki dikatakan memiliki fisik yang lebih kuat dibanding perempuan, yang mampu membentengi mereka dari masalah dan cobaan yang bertubi-tubi menghujam. Lelaki dikatakan memiliki mental baja, sehingga mereka tidak akan berbelas kasihan, yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Lelaki terlahir untuk jadi pemimpin.

Bangga jadi lelaki? Tidak, soalnya teman yang lain juga kan lelaki.

Lelaki kebanyakan pendiam, dan tidak seperti perempuan yang dengan mudah bisa mendapat teman. Lelaki itu hidupnya ‘ugal-ugalan di jalan tol’. Lelaki lebih suka memenuhi ponselnya dengan games daripada foto. Lelaki jauh lebih mencintai sepak bola dibanding ketiaknya sendiri. Lelaki selalu ingin jadi lebih baik daripada bapaknya.

Tapi satu hal yang paling utama,

Lelaki itu harga dirinya tinggi.

Entah selembut apapun sifatnya, setenang apapun pembawaannya, sebijak apapun sikapnya, kalau diajak berantem dan diejek sebagai pengecut, mereka akan melayaninya. Karena harga diri lelaki terlalu tinggi. Mereka tidak akan mau malu didepan musuhnya. Mereka tidak akan terima dilecehkan yang lain.

Lelaki sejati itu harus kuat,

berotot kekar,

bermental baja,

tidak takut apapun.

Namun buat gw, lelaki sejati itu adalah lelaki yang siap menggadaikan harga dirinya untuk sesuatu yang jauh lebih baik dan bermanfaat.

Lelaki memang brengsek,

makanya gw gak suka lelaki…

ADIos!

Pra

March 13, 2009

Alkisah di SMAN 81, ada satu acara yang sudah turun temurun entah sejak kapan, yang dinamakan LTUB (Lomba Tata Upacara Bendera). Acara yang memiliki tujuan mulia agar murid 81 bisa mengikuti upacara dengan baik, jadi diadakanlah acara ini buat kelas X.

Ya secara fakta, memang tujuan itu sangat sulit dicapai.

Ini memang bukan acara besar,

tapi buat gw sangat emosional.

Kenapa emosional? Karena persaingannya ketat dan menyangkut gengsi antar kelas. Karena yang mengajar adalah alumni kelas X nya. Karena gw sekarang adalah Pengurus OSIS.

Setiap kali berbicara LTUB, pikiran saya selalu mengawang-awang ke momen itu, 1 tahun 13 hari yang lalu.

Saya ingat bagaimana kita telah berlatih keras. Saya ingat bagaimana kita semua berkumpul pagi-pagi dekat RS Harum untuk latihan terakhir kalinya. Saya ingat bagaimana saya berkeringat dingin memasuki sekolah. Saya ingat bagaimana kita ramai-ramai panik karena upacara mau mulai tapi masih belum ganti baju. Saya ingat kita baris di belakang X-1, tetangga kita. Saya ingat bagaimana semua kelas terlihat panik, dan saling berbagi kepanikan itu. Saya ingat bagaimana kita masuk lapangan sambil disoraki massa. Saya ingat kita baris waktu upacara pembukaan. Saya ingat betapa lamanya kita menunggu giliran di kelas. Saya ingat bagaimana kita masih sibuk latihan di kelas. Saya ingat ketika kita sudah bosan latihan dan akhirnya tidur-tiduran menunggu giliran ke-6 dipanggil. Saya ingat kakak Rotterdam dengan senangnya memberitau kita kelas lain pada salah, yang bendera terbalik lah, terlilit. Saya ingat waktu mereka bilang X-1 itu bagus dan bakal jadi saingan berat, sepertinya kita memang jodoh.

Saya ingat waktu kita masuk ke lapangan.

Saya ingat waktu kita disoraki kelas XII yang ramai karena habis BTA.

I remember how good we were.

Saya ingat ketika kita sampai di belakang masjid, kita langsung lega. Saya ingat Bram danpas kita langsung tepar, dasar lemah. Saya ingat betapa lelah namun bahagianya kita, sudah memberi yang terbaik.

Saya ingat semua orang memuji kita. Saya ingat orang-orang berkata kita pasti juara, sampai saya muak mendengarnya.

Saya ingat kita tidak juara. Apapun.

Saya ingat semuanya sesunggukan. Saya ingat orang-orang pada mengumpat ‘jurinya buta!’. Saya ingat orang-orang pada marah merasa dicurangi, padahal bukan mereka yang lomba. Saya ingat ketika kontroversi itu hampir memecah perang di 81. Saya ingat kita dikambinghitamkan, padahal kita cuma anak kambing.

Saya ingat kekecewaan ketika tahu bahwa poin kita langsung dikurangi karena Surat Peringatan yang bahkan kita tak tau kalau kita dapat, dua malah.

Saya selalu ingat rasa sakit hati itu.

Dan itulah yang selalu memotivasi gw untuk melatih X-2. Gw ingat janji gw dan Rafie, ‘Sepuluh dua tahun ini harus menang!’.

Namun besok, gw sudah harus menanggalkan atribut alumni X-2. Gw harus jadi orang yang tetap netral. Bukan jadi Adi Kadarisman sebagai Discours, tapi sebagai Adi Kadarisman yang Pengurus OSIS, Pengurus Paskibra, dan Panitia LTUB.

Maaf Discours dan Tentacle, kalau gw jarang terlihat ngajar, jujur itu bukan mau gw, tapi dipaksa keadaan.

Maaf kalau besok gw udah gak dukung kalian lagi.

Ini hari terakhir saya sebagai seorang alumni X-2, so today I would say…

GO TENTACLE! LET US DO THE BEST AND LET GOD DO THE REST!

Dan buat  semua kelas lain yang tampil besok,

Selamat Bertanding.

One For The Money…

March 11, 2009

Ah.

Sebelumya, gw minta maaf yang sebesar dan sedalam-dalamnya, kalo update blog gw rada lama. Speedy is such an a** f**kin h**e provider.

Sebenernya sih gw yang salah.

Tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba tagihan internet bulan maret melonjak hingga 700 ribu rupiah!

Sekarang gw bener2 bingung mencari cara buat ngelunasinnya.

Pake duit lah…

Dari?

Ah.

Baru-baru ini HP Nokia 5310 Express Music yang telah menemani saya dalam kurang lebih 3 bulan terakhir HILANG. Tepatnya selasa kemarin.

Kok gak panik?

Ya sudahlah, udah hilang juga, kalau gw panik toh hpnya juga gak bakal balik sendiri. Jadinya sekarang gw kembali memakai Sony Ericsson W850i yang pernah menemani gw selama kurang lebih 2 tahun.

Tapi sayangnya dia sering error.

Kadang layarnya berubah sendiri jadi putih, kadang blank, kadang lag, kadang pulsanya abis.

Ah.

Jadi di smester 2 ini, gw akan sangat bermasalah dengan UANG.

Berikut daftarnya:

Iuran Panitia Cakrawala: kurang 250 rb lagi

Uang Kas kelas: 40 rb

Uang Kas PO: 30 rb an

Utang ke Memes (makan di Warmo): 13 rb

Utang ke yang lain2: Silakan sebut sendiri, gw lupa

Beli Binder: 150 rb

Beli HP baru: Diatas 2 jt

Gitar Listrik: Diatas 2 jt

(Kalau ada yang salah atau kurang atau berlebih, tinggalkan komen supaya postingan ini bisa diedit)

Sepertinya 3 hal terakhir harus dicoret dulu, yang terpenting sekarang adalah melunasi utang-utang itu.

Ah.

Jadi maaf sekali kalau akhir-akhir ini, gw sangat sensitif masalah mengeluarkan uang.

Jadi maaf sekali kalau gw jadi jarang bikin postingan baru, karena mungkin internet gw bakal diberhentikan (posting ini aja nyolong di jam TIK). Gw juga memikirkan kemungkinan untuk mengomersilkan blog, mungkin pasang ads atau semacamnya.

Jadi maaf sekali kalau gw terlihat sering murung, berarti gw lagi berpikir gimana caranya untuk menghasilkan atau menghemat uang.

Jadi maaf sekali kalau gw jadi matre.

Jadi, maaf.

Ah.

Cigar

February 23, 2009

Gw hampir jadi perokok, aktif.

Jadi, waktu itu gw lagi ada di masjid Al-Muhajirin, malem-malem sekitar jam tujuh, lupa hari apa. Lagi kumpul bareng panitia CAKRAWALA yang lain. Trus gw liat sepuntung rokok, tergeletak begitu saja, dalam keadaan menyala. Ya udah, dengan naluri ADIpura, gw ambil itu rokok dan berniat membuang ke tempat sampah.

Itu adalah keputusan yang sangat salah…

Sambil memegang puntung rokok, rasa penasaran merangsek ke permukaan. Tanpa berpikir, gw mengendus rokok tersebut karena penasaran kayak apa baunya.

Dan bau rokok itu bagai merayu hidungku.

Sejenak gw lupa daratan, lupa kalau disekeliling gw ada orang, lupa kalau gw lagi di masjid!

Harum. Benar-benar menggoda.

Gw teruskan mengendus rokoknya. Otak gw udah dirajai setan, yang mencuatkan rasa penasaran lebih dalam untuk tidak sekedar mengendus, tapi coba isap.

Curiosity would kill you someday.

Beruntung, saat itu pula akal sehat mulai mengeksiskan dirinya.

Buang. Lo gak mau mati konyol kan?

Ya, akhirnya gw buang itu rokok, langsung ambil wudhu dan masuk masjid buat sholat, berharap rasa adiksi yang sempat timbul itu akan tenggelam. Memohon ampun pada Allah, atas kejadian dengan barang haram itu.

Untuk 5 menit tadi, gw ketagihan rokok. Alhamdulillah, sekarang udah normal lagi, walaupun masih sering ada perasaan aneh kalau melihat rokok.

Buat gw, rokok itu adalah barang ciptaan manusia yang paling bodoh. Apa gunanya merusak diri sendiri? Perokok itu sampah masyarakat. Sampah bumi malah. Gak cuma rusak diri, tapi rusak orang lain juga.

Ayah gw perokok.

Dia pernah bilang satu hal,

Jangan pernah merokok sampai kamu bisa cari uang sendiri.

Nasihat yang membuat gw belajar untuk tidak jadi benalu bagi orang lain. Namun gw juga bertekad di hati, gw gak akan merokok sampai kapanpun. Memang gak gampang, pasti selalu ada godaannya.

Perokok, menzalimi diri sendiri dan sekitarnya.

Ya gw tau sih, gw gak bersih-bersih amat. Gw juga seringkali kentut, yang juga merupakan polisi udara. Tapi paling tidak, gw gak ‘mengasap’.

Saya sudah HINA, jangan sampai saya menjadi LAKNAT karena rokok.

Jika nanti anda melihat saya sedang merokok,

tolong tampar.

Metropolisasi

February 21, 2009

Kemarin siang, siang siang kemarin, sekitar jam 10 WIN (Waktu Indonesia Ngaret) sekolah gw mendapatkan kunjungan studi banding dari Pengurus OSIS dan MPK SMAN 10 Padang, Sumatera Barat.

Ya, Padang. Luar biasa memang. Memang luar biasa. Luar memang biasa. Biasa memang luar?

Sebuah sekolah dari provinsi yang segitu jauhnya, tau-tau dateng ke 81, ‘cuma’ buat studi banding, yang itu pun gak makan waktu lama.

Iyalah, gimana kita hidup kalau waktunya dimakan?

Ya mungkin untuk sebagian orang hal kayak gini biasa-biasa aja. Ada beberapa komunitas yang biasanya studi banding sampe keluar (atau ke luar?) negeri. Meskipun itu terkesan jadi kayak semacam ‘kedok’ buat jalan-jalan aja. Kedok Ngorek di pinggir kali.

Tapi aspek yang bakal gw angkat disini adalah:

“Motivasi dan Semangat Orang-Orang Daerah”

haha, kayak judul seminar.

Menurut apa yang gw liat, orang-orang daerah (umumnya luar Jawa) punya semangat yang jauh lebih tinggi dibanding orang-orang di kota besar macam Jakarta ini. Ya salah satu contoh orang-orang Padang tadi, jauh-jauh datang buat menimba ilmu. Gak tau juga sih perjalanan dan akomodasinya dibayarin Pemda nya, atau mereka swasembada duit. Yang jelas semangat kayak gini yang harus ditiru!

ah, bilang aja iri, gak pernah studi banding ke luar kota…

Anggapan sinis kayak gini yang gw benci,

karena seringkali benar.

Okelah, gak perlu melihat contoh studi banding tadi. Kita lihat aspek-aspek kehidupan yang lain.

Orang-orang daerah punya semangat menuntut ilmu yang lebih tinggi, seperti yang diangkat di ‘Laskar Pelangi’. Malukah kita?

Sedikit banyak, pasti ada pengaruh modernisasi kehidupan Jakarta yang perkembangannya begitu pesat, terhadap mental para penduduknya. Sebagai contoh, berangkat ke sekolah. Kita biasa naik angkutan umum atau kendaraan pribadi, dengan jarak sekolah yang dekat. Kita tentu juga sudah sering dengar tentang anak sekolah di pedalaman yang harus jalan kaki 80 km, menyebrang jurang, buat sekolah.

Dan mereka tidak akan bertahan hidup dengan makan abjad.

Tapi rela serepot itu ke sekolah. Miris?

Orang daerah sudah biasa kerja keras. Jangan heran kalau mereka jauh lebih berotot.

Meskipun begitu, orang kota punya kelebihan, yaitu daya saing yang tinggi. Sudah biasa menghadapi permasalahan yang kompleks, dalam lingkungan yang penuh dengan kecurangan dari joker-joker yang berseliweran.

Banyak perihal lain yang juga bisa dijadikan contoh. Intinya, walaupun keadaan kita tidak mengharuskan untuk hidup sesulit itu, belajarlah untuknya. Jangan manja pada keadaan, jangan mau diperbudak lingkungan. Jangan jadi bodoh. Bangsa ini butuh orang-orang ‘benar’ untuk perbaikan.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Bersyukurlah.

ADIos!

NB: Rumah gw di perbatasan, tapi masih ORANG JAKARTA!