Pangeran Kecil

June 14, 2009

Karena (akhirnya) gue sedang punya waktu senggang, bakal gue manfaatin untuk kembali menulis sesuatu di blog yang sudah berdebu ini.

Apa yang akan gue ketik?

It’s about ‘having’.

Have you read a book called ‘Little Prince’? I haven’t, haha. Tapi gue beberapa waktu yang lalu sempat mendengar review buku ini di Hard Rock FM, dibawain sama Iwet dan Rahma, plus Mikael (bener gak ya?) dari komunitas Bunga Matahari. Gue sangat tertarik buat baca, tapi karena gue belum punya uang dan waktu buat beli bukunya, jadi gue search aja quotesnya di internet.

Little Prince berceita tentang seorang pangeran kecil (ya iyalah) yang tinggal di sebuah planet. Sepintas, buku ini terasa seperti buku anak. Bahasa yang penuh fantasi, gambar-gambar seperti di buku cerita memperkuat opini itu. Namun ternyata, di balik bahasa yang mendongeng itu terdapat makna-makna kehidupan yang seperti terabaikan manusia pada umumnya.

It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye.

Ya, hanya dengan hatilah kita bisa menyingkap dan menyelami makna-makna dalam buku ini. Bukan dengan sekedar dibaca dan diutak-atik dengan logika.

Buku ini menggunakan perspektif anak kecil. Ya secara judulnya Little Prince. Anak-anak merupakan makhluk yang masih polos, jujur, dan jalan pikirnya tidak sekompleks orang dewasa. Pengunaan kata-kata di buku ini seakan menambah dalam pemikiran itu.

Grown-ups love figures. When you tell them that you have made a new friend, they never ask you any questions about essentail matters. They never say to you, “What does his voice sound like? What games does he love best? Does he collect butterflies?” Instead, they demand: “How old is he? How many brothers has he? How much does he weigh? How much money does his father make?” Only from these figures do they think they have learned anything about him.

To forget a friend is sad. Not every one has had a friend. And if I forget him, I may become like the grown-ups who are no longer interested in anything but figures…

What an extraordinary book.

Banyak banget kata-kata indah yang membuat gue semakin menyukai buku ini bahkan sebelum membaca, kayak misalnya,

“All men have the stars,” he answered, “but they are not the same things for different people. For some, who are travellers, the stars are guides. For others they are no more than little lights in the sky. For others, who are scholars, they are problems. For my businessman they were wealth. But all the stars are silent. You–you alone–will have the stars as no one else has them–“

Dan ini bagian yang paling gue suka.

Jadi si Little Prince ini, punya sebuah bunga mawar yang dia letakkan di dalam toples kaca. Di planetnya, bunga ini sangatlah langka, mungkin hanya satu-satunya. Warnanya begitu cantik. Little Prince sangat mencintai bunga itu. Setiap hari ia bermain dengannya, menyiraminya, memandanginya berjam-jam.

Namun ketika ia sampai ke bumi, ia menemukan ratusan bunga mawar lainnya, dengun bentuk, warna, dan keindahan yang sama layaknya mawar kepunyaannya. Ia merasa sedih. Apa yang spesial dari mawar milikku? Sama saja seperti ratusan bunga lain di planet ini…

And so, here is my favourite quote. You can interpret it in your own ways. For me, it’s the one that made me realize what ‘having’ is. The one that explains what ‘loving’ really is,

It is the time you have wasted for your rose that makes your rose so important. You become responsible , forever, for what you have tamed. You are responsible for your rose… 

You are beautiful, but you are empty. One could not die for you. To be sure, an ordinary passerby would think that my rose looked just like you–the rose that belongs to me. But in herself alone she is more important than all the hundreds of you other roses: because it is she that I have watered; because it is she that I have put under the glass globe; because it is she that I have sheltered behind the screen; because it is for her that I have killed the caterpillars (except the two or three that we saved to become butterflies); because it is she that I have listened to, when she grumbled, or boasted, or even sometimes when she said nothing. Because she is my rose.

Advertisements

Half-way, Whole-life

February 17, 2009

It has been 6 months, huh?

I’m afraid.

Afraid of what?

I afraid that after everything’s gone, I would drown in regret. Regret for myself, that I wasn’t able to give my best.

So you’re not afraid of losing friends, losing the responsibilities, and losing all the attributes?

Nope, not at all, sir.

Why?

They would’nt gone, they would stay in our own heart.

Hmm, I see you are such a compilcate person, aren’t you?

Might be, sir. I am complex, so I would be the only person who can be ‘me’. Nobody could.

What do you feel about the past 6 months?

We could’ve done so much better. We deserve more. But our own problem seems to put us away from ‘the top’ that we could reach.

So you don’t feel any satisfaction?

Of course there are some great things that we’ve done, but I guess it’s just not enough, for me. Enough to make me satisfy. Enough to make everyone else recognize us. Enough to be enough.

Any last words?

Care is always the key. We don’t have much time left, so let us give our best until the time kill us. But again, we shall not be killed. We’ll stay as one, forever and evermore. Each and everyone, the twenty nine. Because we are…

Belum sempat si relawan itu menyelesaikan kalimatnya, timah panas keburu menembus kepalanya. Mayat itupun tergeletak diam dengan kepala penuh darah, di kursi reyot. Para sersan itu senang, mereka telah dapat apa yang mereka inginkan: informasi. Si penembak berteriak sambil menggenggam gelas anggurnya.

Let us have a toast tonight! And tomorrow, all of our big enemies will go down, bending on their knees! We Will Triumph!

Ruangan itu pun riuh dengan gemuruh tepuk tangan.

Terima Kasih, Netradhiira Pattvisekra.

Skak

February 8, 2009

Hoi, ngapain disitu?

bengong kah?

oh, beku, ya sudah.

diam saja disitu, saya tak paksa.

tapi tolong anda sadar, sedikit.

jangan cuma liat ke kanan!

jangan bisanya lihat arah baik!

tengoklah sedikit ke kiri.

sedikit saja, saya tak minta banyak-banyak!

lihat kan?

kumuh, saling bunuh, penuh.

mana ‘prestis’ yang menempel di dadamu itu?

pecahkan kaca itu, tinggalkan bingkainya

terbang keluar jendela

itu kodrat anda, burung!

lihat macam apa tanahmu ini!

lihatlah, seperti apa negara yang jadi tujuan anda terlahir!

hamparan tanah berlambang potret anda.

tak punya harga.

merdeka, cuma mereka-reka.

sumbang!

sampai kapan ditunggu ratu adil?

sepertinya ia masih berak, belum cebok pula.

buatlah rakyat adil, gantikan penyelamat fiksi itu!

Hoi burung,

anda kan gagah.

keluarlah dari bingkai kayu itu!

keluarlah lewat jendela sempit itu!

tinggalkan ruangan kelas pengap ini!

cepat, guru matematika itu tak akan melihat!

lepaslah ke mega!

kepakkan sayap kemenangan itu!

kepakkan sayap kirimu sampai Sabang!

kepakkan yang kanan  hinggga Merauke!

tutupi kami dengan rasa hangat!

lindungi kami dari teriknya matahari yang perlahan  membunuh kami!

lalu makanlah kami, cacing-cacing ini.

karena kami,

tak pantas berlambangkan anda.

tak pantas jadi bangsa merdeka.

tak pantas jadi orang Indonesia.

Sebentuk dedikasi untuk Garuda Pancasila, yang kini cuma bisa terpaku di tembok, terjebak di bingkai, tersiksa melihat para generasi penerusnya di ruang kelas, tanpa seorang pun peduli, dialah lambang negara kita.

Pahlawan

January 10, 2009

Yazeed panik, dimandikan keringat dingin. Fatimah menangis meraung-meraung kesakitan, teriak-teriak minta dibebaskan dari kesakitan luar biasa. Tentu saja, siapa yang tidak seperti itu jika kakinya hilang sebelah?

Dibongkarnya semua lemari, mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menyelamatkan janda tua yang telah mengurusnya dari orok itu. Yang ditemukannya cuma handuk, kain perca, dan sedikit plester sisa. Meski ia tau alat-alat itu tak bisa sambung kaki, ia bawa semua ke ranjang Fatimah.

Tak tahu apa yang harus dilakukan, Yazeed hanya bisa menangis. Semua barang yang ia bawa, cuma ia sesakkan di kaki Fatimah, berharap darah akan berhenti mengalir. Harapan tinggal harapan.

Lapak hampir rubuh digemuruhi isak tangis keduanya. Erangan-erangan Fatimah makin menyiksa bocah itu. Ia terjepit dalam mimpi buruk, ingin bangun tapi tak bisa. Wanita itu sudah mengurusnya dari ketika ia belum bisa mengucap ‘terima kasih’. Wanita itu berkali-kali menyelamatkannya dari kematian. Yazeed yang lemah dan sakit-sakitan dirawatnya penuh sabar.

Tapi sekarang, ketika ia diambang hidup mati, membutuhkan Yazeed lebih dari apapun, bisa apa dia? Air matanya bukan air surga.

Ia pun coba cari bantuan di kota, yang jaraknya sekitar 500.000 cm dari situ. Janjinya pada Fatimah, dia kembali membawa bantuan. Fatimah akan tetap hidup.

Berjam-jam ditunggunya anak itu, namun ia tak kunjung kembali. Ia sangat kehausan, butuh air. Air dingin. Apa daya, ia cuma bisa terdiam di ranjang, ditemani rasa sakit, didongengkan oleh lapar dan haus.

Berjam-jam tetap ditunggunya. Hari sudah kunjung larut, tak kembali juga anak itu. Kemana ia sebenarnya? Fatimah semakin lapar, perut memanggilnya. Ia sepertinya sudah mulai terbiasa dengan rasa sakit, namun tidak akrab dengan kelaparan ekstrem seperti ini.

Seekor kecoa melintas di depannya. Naluri kebinatangan Fatimah merangsek ke permukaan. Dipukulnya kecoa itu sampai mati, badannya gepeng. Cairan tubuhnya bergelinang di lantai abu itu. Diambilnya bangkai itu, diletakkannya di meja. Ia ingin sekali memakannya, rasa lapar membuatnya gila.

Tapi ia ingat, Yazeed belum pulang, dan mungkin belum makan. Ditunggu Yazeed sampai ia pulang, nanti kecoa itu untuknya dulu jika ia lapar.

Namun Fatimah tak tahu akan satu hal, Yazeed tak akan pernah kembali.

Ia menjadi salah satu dari 100 anak yang meninggal di Gaza semenjak hari ketujuh. Dibombardir oleh sekumpulan manusia Zionis tak berhati. Mayatnya langsung dibawa ke rumah sakit, tanpa mengetahui siapa sebenarnya anak ini.

Mayat Fatimah pun membusuk di lapak itu. Ia menjadi korban ke 422 yang meninggal akibat serangan di Gaza.

Maka pahlawan umat manusia saat ini adalah laut.

Belakang, Depan

December 29, 2008

Seorang lelaki muda terbaring sendirian di kamarnya

Tidak, ia belum mati. Ia baru saja hidup kembali.

Terlempar dirinya ke lorong waktu.

Tersedot, layaknya limun.

Cuma khayalnya.

Rekapitulasi 365 1/4 hari, Dua Nol Nol Delapan.

Awal, harinya begitu tak berguna. Siklus monoton yang selayaknya lalu, tanpa atensi. Sampah, mungkin tak ada yang peduli kalau ia hilang.

Waktu, sebuah dimensi yang tak dapat distop, oleh tukang parkir sekalipun. Berulang terus kemonotonan itu. Lanjut, lanjut, sampai keempat.

Empat orang masuk ruangan tujuh kali delapan. Tiga diantaranya terlihat formal, satu lagi seragam butut. Tapi ia tahu, satu orang itu tiada sembarangan.

Informasi yang sejak lama ia nanti, hal yang akan merubah hidupnya, meski cuma setahun. Sebuah parlemen eksklusif.

Tiada ragu, lewati semua prosesi, meski kadang tak sesuai dengan apa yang ia sebut ‘rasional’. Penginterpretasian manusia akan sebuah objek tak bisa disamakan. Entah sekompleks apa Tuhan menciptakan jaring-jaring otak.

Sampai akhirnya, ialah di parlemen. Satu dari dua sembilan. Dua sembilan dari ratusan.

Tak gampang. Hal baik dilakukan, biasa. Hal jelek, matilah.

Dijalankan visi misinya sebaik mungkin. Tak usah pedulikan kritik-kritik para perusak. Orang rusak ya kritiknya rusak.

Tak cukup serbuan datang dari luar, bagian dalam pun ikut mencoba meruntuhkan. Permasalahan internal, itulah yang harus diberi pengawasan ekstra. Itulah si profesor jeniusnya, pencipta senjata nuklir berdayahancur hebat.

Serangan luar, bisa pakai tameng. Dalam? Tanyakan saja pada billboard produsen rokok itu, mereka biasa memampang dan menjawab pertanyaan bodoh. Bodoh namun substansial.

Sempat kita ditenggelamkan pada waktu-waktu krusial. Sekarang mungkin baikan.

Baikankah? Itu pun juga tak tentu terjawab. Mungkin saja babinya berak di dalam kardus, jadi tak ketahuan, tak kelihatan. Tau-tau baunya tak enak. Ketidaklihatan itu yang tersulit.

Namun teman, ketika tangan sudah tergandeng, apa yang bisa menghalangi? Karena itu tetaplah bergandeng.

Masa-masa kritis pernah lewat, tentu kita bisa lewati yang lain.

Akhir, kita sempat terkonflik belakangan. Percaya, itupun bisa rampung, asal dengan keinginan dan kesadaran. Kepedulian, definisikan masing-masing.

Sekarang sudah diujung. Tepat diujung.

Lelaki muda itu tersadar dari lamunan, terdiam. Inilah ia di Dua Nol Nol Delapan. Evolusi menjadi sebuah makhluk yang lebih matang, belum pantas disebut lebih baik.

Tahunnya berunjuk gigi sudah lewat. Masuk paruh berikutnya, mempersiapkan yang dibawahnya untuk bersinar, layaknya matahari. Bisakah mereka? Itu tanggung jawab Sang Raja.

Jadi apa tahun depan? Jadi lebih tua pastinya. Tak tahulah, jalani saja. Resolusi? cuma buat orang yang tak bisa nikmati hidup.

Bersandarlah, tonton saja apa yang nanti bakal lewat.

Saya, Blog.

Refleksi diri.

Menuju Dua Nol Nol Sembilan.

Kosa

December 27, 2008

Terpatung sendirian di halte. Tas kerja sederhana, kemeja biru dengan lengan yang digulung, sepatu pantofel butut yang nyaris tak pernah disemir, dan sebuah map coklat. Map berisi perjalanan hidupnya, kumpulan prestasi dan laporan akademisnya. Semuanya sangat sempurna, namun tak cukup sempurna untuk menarik perhatian satupun perseroan yang dijamahnya. Bosan dia, setahun berlalu semenjak wisudanya, ia masih menjadi salah satu dari sekian juta sampah masyarakat Jakarta yang terdata dalam ‘Tingkat Pengangguran’.

Sebuah bosannya hilang, bus laknat itu akhirnya datang, yang telah ditunggunya 3600 detik.

Ah, siapa sih supir bus itu? paling hanya orang miskin berpendidikan rendah yang bahkan tak pantas bercengkerama denganku. Beraninya ia membuat seorang sarjana menunggu 1 jam!’, pikirnya dengan penuh kegeraman. Meski kesal, ia pun tetap naik.

Bus kota padat, bau keringat, bau ketiak, bau kaki bercampur bau parfum sebagian orang, benar-benar kacau, menambah beban sakit kepala si sarjana. Setelah bermanuver menyelak orang-orang, akhirnya ia dapat sebuah tempat duduk. Memang tak dekat jendela, seperti apa yang diharap, namun lumayanlah, daripada harus berdiri bersama cecunguk-cecunguk metropolitan ini, pikirnya, sambil memperhatikan para penumpang yang berdiri.

Selang menit, seorang ibu muda yang sedag hamil naik ke bus itu. Ia berjuang untuk mendapat tempat sampai akhirnya didapatnya spasi kosong. Berdiri di samping sarjana, sambil menahan perutnya yang sudah menggembung. Sarjana? pura-pura mengalihkan pandangan ke ponselnya, padahal tak satupun pesan singkat diterimanya. Cukup diutak-atik profilnya, melihat daftar lagu yang dimiliki, atau sekedar menyala-matikan bluetooth.

‘Aku berjuang keras mendapatkan tempat ini, kenapa pula harus diberikan kepada seorang yang bahkan tak kukenal?’

Ditengoknya si ibu. Tersentak ia melihat seorang lelaki kurus paruh baya mengobok-obok tas si ibu hamil, mencari ‘gaji’ nya untuk hari ini. Si sarjana kembali mematung.

‘Buat apa aku meneriakinya? toh mencuri memang pekerjaannya, tak seperti aku yang tak punya pekerjaan. Lagipula salah si ibu sendiri tidak waspada, padahal bus kota rawan maling. Dan pria itu pasti menyimpan pisau di sakunya, kalau aku sok pahlawan, itu malah akan membahayakan nyawaku. Tak mau aku terluka untuk seseorang yang tak pernah memberikan apa-apa padaku,’ kupingnya dibebali bisikan setan. Turut saja.

Tak puas sepertinya hanya dengan dompet, si pencopet pun mengambil tas ibu itu dan turun di halte berikutnya, dengan senyum keberhasilan tersungging di bibir. Tak satupun orang yang sadar, termasuk yang punya tas. Ia terlalu sibuk menahan perutnya dan mengusir rasa sakit karena ditendang si calon anaknya.

Si sarjana, dengan penuh dilema, akhirnya turun di halte tujuannya. Tak berani ia menatap wajah si ibu hamil itu. Entah karena takut atas rasa bersalah, atau ya memang takut saja, mungkin wajah si ibu seperti kuntilanak, siapa yang tahu? Sarjana pun juga sepertinya tak akan pernah tahu, terlalu takut untuk cari tahu.

‘Tak akan pernah berjumpa lagi, buat apa pula rasa bersalah ini kusimpan?’

Sarjana pun meneruskan perjalanannya ke tempat tujuannya. Mengajukan lamaran, mengadu nasib di kota keras ini. Berharap masih ada seorang manajer kaya yang cukup baik hati untuk memberinya jaminan hidup untuknya dan keluarganya.

Waktu yang tak bisa dihentikan itu terus berlalu, si sarjana kembali ke rumahnya, rumah orang lain tepatnya. Ia hanya mengontrak. Mukanya ditekuk, tanda bahwa hari ini kembali mengecewakan. Pulang dengan tangan hampa, si sarjana disambut istrinya. Dilihatnya sang istri, memakai daster yang sepertinya tak asing baginya hari ini. Tak seperti sang suami yang diam penuh makna, si istri langsung menyemprot suaminya dengan kata demi kata, nada panik.

‘Yah, ayah harus denger! Tas aku tadi diambil maling, yah. Di bus kota! Di tas itu ada dompetku, hape, surat-surat berharga, banyak lah pokoknya!Maling brengsek! Anjing! Tau gitu aku gak jadi pergi! Tadinya aku mau ngurus surat…’

Sarjana kembali mematung. Tidak, membatu. Batu lebih abstrak dibanding patung.

Ia sudah tidak peduli rentetan ocehan istrinya setelah kata-kata ‘di bus kota’. Tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Kembali ia diam, namun hanya mulutnya yang diam. Darah mengalir deras ke otaknya. Dirinya kini dibungkus dendam, dilapisi amarah.

Ia ingin mati, tapi sebelum mati, ia ingin berhadapan satu lawan satu dengan Tuhan. Inginnya membakar Tuhan, yang dulu pernah ia percaya itu.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu ini salahnya. Lubuk itu dipenuhi sesal. Penyesalan yang tak terkira.

‘Kenapa penyesalan selalu datang belakangan?’

Karena jika penyesalan datang duluan, maka manusia akan dipenuhi ketidakpastian, tenggelam dalam kepesimisan. Manusia tak akan pernah maju, terhalang dinding penyesalan.

Si sarjana telah sampai pada titik dimana ia merasa perlu mengambil jalan pintas…

SELAMAT DATANG DI DUNIA NYATA. MAKAN ATAU DIMAKAN.

Kemasan

December 25, 2008

Aku burung hina

kedua sayap patah, tak tumbuh lagi

tiada daya menyusul  kawanan, cari pengganjal perut

tapi untuknya, aku akan terbang

meski harus tersangkut di pesawat.

Aku matahari, tapi palsu

sinaran tak sampai ke dasar laut

tapi untuknya, sinarku keseluruh mega

meski dibantu senter dan petromak.

Aku mobil, bobrok

tak bisa berjalan

buat apa jadi mobil?

tapi untuknya, kuantar kemanapun

meski kaki cerpelai kupinjam.

Aku rice cooker

tapi tak sanggup hangatkan nasi

tapi untuknya, kuhangatkan nasi basi sekalipun

meski kurendahkan harga diriku

minta tolong arang dan kayu bakar.

Aku Microsoft Word

kena virus, tak cerdas dipakai ketik

cuma penuhi hard disk

tapi untuknya, apapun kubuat dokumen

mohon bantuan Notepad pun aku tak malu.

Aku mungkin gila

tergila untuknya

deminya kubunuh egoku

kuawetkan, kubingkai

kujadikan lukisan dinding kamar pengantin kami, nanti.