IP, GD

June 28, 2011

(Tanda koma pada judul sangat krusial, karena kalo dibaca tanpa koma bakal menimbulkan fitnah)

Sebenernya udah lama sih pengumumannya. Penjurusan yang udah bikin galau sepanjang tahun. Akhirnya penantian panjang berakhir dengan…

Use google if you don't know what on earth is 'geodesi dan geomatika'

Or use google earth instead. Syalalalala Kebumian.

IP gak ada screenshotnya ya, kalau di ITB ada yang namanya SARIP bos! (Suku, Agama, Ras, dan IP)

Saking senengnya, gue udah gak peduli berapa angka yang ditunjukkan si Indeks Prestasi Kampret tersebut. Ini yang gue pengen, gue mau, dan gue bersyukur banget karena ternyata keberuntungan gue belom abis.

Sebenernya kalo menilik lagi kebelakang, belakang banget, tepatnya ketika gue memutuskan buat ngambil FITB, pengennya masuk Geologi. Di fakultas gue jurusan yang paling dikenal, kalu bukan satu-satunya yang dikenal, ya Geologi. Entah udah berapa kali gue mengalami percakapan macam…

P: Kuliah di jurusan apa?

A: (bingung karena belom punya jurusan) Fakultas Kebumian, Om/Tante/Ka/Coy

P: Kebumian? ….

A: (sebelum percakapan jadi canggung) Engg, Geologi, Om/Tante/Ka/Coy

Barulah ada anggukan dari si penanya, tanda bahwa dia mengerti. Atau makin gak ngerti jadinya diiyain aja. Sayangnya si Geologi ini banyak peminatnya, sehingga menimbulkan persaingan ketat. Banyak yang akhirnya harus mengalah dan mengambil pilihan kesekian.

But no, that’s not me. Gue gak milih Geodesi karena menyerah dalam pertarungan, tapi karena emang dalam perjalanan menuntut ilmu di bawah belalai Ganesha ini gue menemukan bahwa jurusan ini lebih sesuai buat gue. Meskipun nilai kalkulus seakan tidak merestui. But here I am now, making the most out of it

Gue gak menampik kalo IP gue ‘tidak tinggi’. Orang-orang yang selalu in denial akan berteriak “IP itu gak penting, yang penting gimana caranya lo jadi mahasiswa yang bermanfaat!”

Bukan berarti statement di atas gak bener, tapi entah kenapa kok yang ngomong begitu bukan yang IPnya tinggi ya? Berarti itu cuma denial dong? Gue sih lebih suka buat menerima dengan kepala tegak. Iya IP gue tidak tinggi, dan itu salah gue sendiri karena males, bukan salah orang lain, bukan salah orang-orang yang IPnya lebih tinggi. That’s it.

Gue akan menapaki sebuah bab baru dalam hidup ini, yang mudah-mudahan jauh lebih bagus. TPB bisa dibilang adalah titik terendah sepanjang hidup gue yang emang udah rendah ini. It’s over now, no need to hold my breath anymore.

I welcome you, Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung.

Adios!

(FYI, smester 2 sebenernya naik, tapi cuma 0,01. Semacam gak ada rasanya. Alhamdulillah sih, paling enggak bisa dengan bangga menyatakan kalau smester ini naik, fuckyeah)

Last Eve 09

December 31, 2009

‘Tahun baruan kemana?’

If this society is a twitter, those words above gotta be the trending topic of the evening.

Dan untuk yang masih terjebak di rumah bersama televisi, hp, dan beberapa personil rumah yang setiap hari kita lihat, maka malam tahun baru akan menjadi buruk, hambar. No party, no friends, no laughter, no fun. That’s what i imagine a few hours ago.

Tapi gak gitu-gitu amat. I’m having a blast with my family. Mereka memang bukan temen-temen gue yang bisa bikin ketawa sampai perut sakit. But they’re warm, so warm. Yep, there’s no place like home, yang artinya rumahku surgaku.

Walaupun di rumah juga cuma nonton Spiderman

Penghujung 2009 adalah dimana kita berdiri saat ini. Setahun sudah kita menjalani hari-hari sehingga tak terasa sudah terbilang 365 hari. Buat gue, inilah tahun roller coaster. Ups and downs, got through all that in a speed wagon, complete with adrenaline rush.

Di tahun ini gue menelan berbagai pil pahit dan puyer-puyernya. Di tahun ini gue berkali-kali menekuk bibir untuk tersenyum

Di tahun ini gue berusia 17 tahun. Usia yang kata orang sudah menginjak kedewasaan. Mudah-mudahan itu juga berlaku buat gue.

Di tahun ini gue naik kelas 3. Tingkat terakhir di jenjang pendidikan SMA. Langkah awal menuju cita-cita dan kebanggaan gue nantinya di waktu dewasa.

Di tahun ini gue demisioner sekra. Harus berpisah dengan orang-orang menyenangkan, teman-teman ter-welcome yang pernah gue punya, perkumpulan yang begitu erat dengan dibumbui empati. Kita memang tidak benar-benar berpisah, kebersamaan masih bisa dibina. Namun tak ada yang menandingi kebersamaan dikala terjepit. Sama-sama susah, sama-sama panik, sama-sama marah di sebuah ruangan sempit. Berbagai hal luar biasa terjadi dan gue akan sangat merindukan itu sampai nanti punya cucu. Sepuluh tahun lagi kita reunian ya. Kalo ada yang nikah jangan lupa ngundang-ngundang. Nulla dies sine linea!

Di tahun ini akhirnya gue berani menyatakan perasaan pada seorang wanita. Untuk sebagian orang mungkin biasa-biasa saja. Namanya anak SMA pasti bakal nemu cinta monyetnya. If that so, she’s gotta be the most beautiful monkey i’ve ever met. She’s the first and hopefuly the last. She’s my second mother. She’s a full-time friend. She’s a genius.

Dan tahun ini pun selesai.

Di tahun depan gue berharap akan jadi Mahasiswa ITB. My dad saw my registration card and said,

Semoga kamu masuk deh, gantiin ayah yang dulu DO.

Itulah harapan terbesar gue, pickin up what he left and startin my dreams. Semoga gue bisa jadi mahasiswa yang baik.

Di tahun depan gue berharap bisa jadi diri sendiri. Bukan Adi Kadarisman tuntutan orang. Bukan seseorang yang hidup dan mengubah diri berdasarkan komentar orang. I’m 18, i should handle myself. Melebihi keinginan gue untuk mejadi orang baik, gue ingin jadi diri sendiri.

It’s not much of a writing, but i promise to myself to use this blog as a diary. Turns out all along this time i am writing for myself. Not to be read, but to be remembered.

I’m nut much of a writer. Joko Anwar once said on Twitter

Writing is like karaoke. Everybody thinks they can do it.

Gue memang bukan penulis bagus, tapi gue mau punya rekam jejak dari apa yang selama ini gue lakukan, ekspresi dari apa yang selama ini gue pikirkan, wadah dari apa yang selama ini ingin gue utarakan. And this blog accompanied me in this year’s speed wagon.

Bye 2009. I’ll be missing you much.

And, Happy New Year, Fellas!

P.S. Sam Raimi, please make spiderman with a better version of venom. I mean, he’s like, the coolest villain! Please…

Pembawa Surga

December 22, 2009

Entah dunia memang diciptakan berat sebelah, atau para penghuninya yang berbondong-bondong bergerak ke satu sisi, sehingga sampai saat ini yang namanya wanita selalu derajatnya dibawah. Dibawah laki-laki tentunya. Kalau diurut, mereka ada di nomor dua, nomor tiganya binatang.

Diciptakan dari tulang rusuk pria, wanita adalah sidekick kami. Superhero selalu lelaki. Sekalinya ada wanita pun komiknya tidak laku, atau superhero lelakinya tetap lebih kuat. Sama saja.

Lelaki diidentikkan dengan kata perkasa, pemimpin, atau favorit saya: kuat. Kalau ditanya kenapa begitu, maka akan dijawab memang sudah seharusnya begitu (baca: tidak tahu jawabannya dan tidak peduli). Saya sendiri, yang lebih kurangnya adalah lelaki, pun berpikir demikian sampai pada akhirnya becabang setelah sebuah perenungan di hari ini. Hari Ibu.

Sejenak saya intip kamar ibu yang pintunya terbuka. Niat saya ingin membangunkannya dan mengucapkan selamat hari ibu, tepat pukul 12 malam. Namun niat tinggallah niat, urung terlaksana. Wajahnya yang mulai menunjukkan garis keriput terlihat lelah setelah mengurusi saya yang banyak makan dan adik saya yang susah makan. Dia sudah hilir mudik membereskan rumah, yang buat saya pekerjaan sia-sia karena toh akan berantakan lagi.

Tetap saja dilakukannya, agar keluarganya tetap merasa nyaman, betah dirumah.

Mubazir, karena anaknya merasa bosan liburan dirumah. Mereka ingin keluar ke luar, ke mall, ke rumah kawan akrabnya yang sudah setiap hari bertemu di sekolah tapi masih kurang puas, ke tempat-tempat pusat kesenangan, atau kemana saja asal tidak dirumah. Semakin sia-sia usahanya membersihkan rumah.

Ibu saya tidak bodoh, dia pasti tahu itu. Dia pernah muda, tidak lahir langsung jadi ibu.

Dia tidak mengenyam pendidikan tinggi, hanya lulusan SMA. Sempat kuliah namun terhenti karena berbagai hal. Namun ia begitu cerdas, entah darimana didapatkannya kecerdasan itu. Dia cerdas, karena dia mampu mencerdaskan anaknya. Bangga saya.

Hidup kami susah, tapi tak ada kesusahan tersirat di wajah dan perilakunya. Sungguh wanita luar biasa.

Apakah semua wanita seperti dirinya? Atau saya yang sangat beruntung?

Melihat betapa sulit perjuangan ibu, hati saya jadi terpanggil. Cita-cita itu adalah untuk menjadi seorang ibu yang baik. Tapi ternyata saya ini laki-laki, tak punya hati yang tulus dan bersih, tak punya keikhlasan untuk mengorbankan hidup demi nyawa baru yang telah dikandung, tak punya kesabaran untuk merawat dan menjaga makhluk yang bahkan tak pernah berucap terima kasih atas apa yang saya lakukan. Dan yang terparah, saya tak punya wajah cantik untuk menjadi seorang ibu.

Karena segala keterbatasan itu, saya memutuskan bercita-cita menjadi seorang ayah yang baik. Dengan begitu, di masa depan saya bisa meciptakan ibu-ibu lain yang baik.

Fathers be good to your daughters

Your daughters will love like you do

Girls become lovers who turn into mothers

So mothers be good to your daughters too

John Mayer – Daughters

Wanita menanggung amanat berat yang disematkan Tuhan, untuk menjadi sumber kehidupan. Ibu saya salah satunya, begitu pula dengan ibu anda.

Wanita adalah air hujan ditengah kemarau panjang, genangan air ditengah gurun sahara, salju diantara terik matahari, atau nasi padang ditengah wabah kelaparan.

Namun tak banyak wanita yang bisa memberi kasih sayang, semangat, dan cinta yang cukup untuk membuat seorang laki-laki menjadi lelaki sejati. Beruntunglah saya punya dua.

Untuk semua wanita luar biasa,

selamat Hari Ibu.

Dan jangan sering-sering main sepak bola, nanti surganya porak-poranda.

On-ternet

August 29, 2009

Hari ini gue puasa sehari penuh loh, hahaha.

A friend said,

Bikin postingan jayus lagi dong

Hm kayaknya emang udah lama gue gak nulis sesuatu yang santai. Mungkin karena gue nya sekarang juga kebanyakan santai, jadi ngapan nulis sesuatu yang santai padahal gue sendiri tenggelam dalam kesantaian?

apasih.

Duh gue gak janji ya bisa bikin tulisan yang jayus. Lagian ini orang aneh-aneh aja sih, bukannya minta bikin postingan lucu malah minta postingan jayus. Ya buat apa? Kan jayus.

Brarti sekarang pandangan orang terhadap jayus lambat laun makin berubah. Paradigmanya sudah tak lagi ‘jayus itu tidak lucu’, melainkan sekarang ‘jayus itu lucu’. Dulu jayus lebih rendah dari lucu, tapi sekarang jayus itu setara dengan lucu.

Kalau jayus itu lucu, lalu lucu itu apa?

Berarti lucu itu adalah sebuah level yang tidak tersentuh. Orang tertawa karena jayus, bukan karena lucu. Jadi para pelawak sekarang sudah tidak lagi melucu, tapi menjayus. Dan gak ada orang yang bisa mencapai level ‘lucu’.

APASIH.

Gila, hampir 200 kata sendiri, cuma buat ngebahas jayus!

Karena hidup gue akhir-akhir ini datar, jadi mari membahas sesuatu yang santai.

Wacana Umum: Internet

Wacana Khusus: Aku dan Internet

Yang jelas situs jejaring sosial dengan segudang fasilitas yaitu Facebook semakin chaos. Bukan chaos sambel, tapi chaos=kacau. Kenapa? Karena sudah terjangkit virus-virus A to the L to the A to the Y. Emang gak berhak sih gue ngejudge seseorang cuma berdasarkan tO3LizZ4n nya atau gaya berfotonya. Tapi maaf sobat, Jakarta memang keras.

Dulu, waktu gue mainannya masih Friendster, gue menganggap situs ini kuerrren abez. Latar belakang bisa digonta-ganti sesuai mood (cukup dengan ilmu copy paste). Bisa bikin tulisan kerlap-kerlip (lagi-lagi cukup dengan copy paste). Bisa ketemu orang-orang baru (kalau ini copy darat).

Berasa dunia dalam genggaman kalo udah mainan FS.

Tapi semuanya berubah setelah paman gue menunjukkan blackberry miliknya. Sebenernya bukan BB nya yang bikin gue kesengsem, tapi cerita-cerita dia soal sebuah situs live sex pertemanan yang bertajuk Facebook. Udah lama juga sih taunya, tapi belom pernah buka. Sampai dirumah, gue langsung aja tancap gas ke TKP, bikin sebuah akun dengan NAMA ASLI. Dan disitu gue mulai bertemu akun orang-orang juga dengan NAMA ASLI. Gak kayak FS yang namanya macem-macem kayak ‘dHeLz cH4nTiqUe’ atau yang norak kayak misalnya ‘kadarisonfire’.

Rasanya familiar ya?

Gak kok, sekarang famijinak.

Situs ini terasa lebih elegan, tampilannya samaaaaa semua, jadi gak pusing ngeliat glitter-glitter, atau harus scroll atas bawah buat nyari player sehingga bisa matiin lagu di profilenya. Selain itu, gak perlu ngereload halaman lagi ketika kita memberi komentar, gak kayak testi di fs. Sebegitu gampangnya mengomentari sesuatu, ngelike status orang, sharing foto atau video dan ngetag orangnya. Belum lagi ditambah ratusan aplikasi unik berupa games, polling, kuis-kuisan tentang diri sendiri, atau malah ramalan kartu tarot.

Everybody loves Facebook!

(yang juga bikin keranjingan adalah ngeliat Wall-to-Wall orang)

Tapi yaa namanya perkembangan jaman, teknologi sudah makin terjamah, jadi sekarang sekelompok-orang-yang-tidak-perlu-disebutkan-lagi-namanya itu sudah bisa menjangkiti FB, walaupun belum sampai tahap ‘mengganggu’.

Sekarang gue sendiri juga mulai mengurangi frekuensi buka FB. Tadinya 5 kali sehari jadi 4 kali sehari, haha.

Dewasa ini, gue lagi cukup ngefans sama Twitter. Gatau ya, padahal gak ada bedanya sama update status di FB. Mana gitu karakternya terbatas pula, 140 doang, lebih dikit dari sms. But i just love it! haha, mungkin kayak mini blog kali ya, gue bisa menuangkan apa yang ada di pikiran gue saat itu juga, dan juga ngeliat apa yang sedang orang lain lakukan. It’s kinda fun and addictive.

Ya, dan kadang gue suka ngerasa bingung pas ngeblog, karena udah keseringan tweet.

Tapi gue akui, untuk saat ini gak bakal sepenuhnya melepas FB yang bisa memberi informasi berlimpah ruah, cuma dikurangin aja.

Dan yang pasti, there’s no place like blog!

Jangan berhenti ngeblog ah, blognya laku tuh haha

Yep, i’ll keep that in mind, hha. Emang sih gue belum apa-apa dibanding teman-teman lain yang blognya canggih, bahasanya bagus. Tapi gue gak mau berhenti. Every professionals were an amateur, right? Jadinya gue akan berusaha sekeras mungkin untuk tidak berhenti.

Lah kalo nanti sekelompok-orang-yang-tidak-perlu-disebutkan-lagi-namanya itu sudah menjamah blog?

Tau ah, gue udah punya situs sendiri kali, haha amin.

For now, my best regards for WordPress, fellow bloggers and readers!

ADIos!

Oh, when I saw her standing there!

Sekra 14

August 21, 2009

Dalam perjalanan menuju masjid untuk solat siang tadi, saya menyadari sesuatu.

Lingkungan rumah saya berubah, banyak.

Lapangan yang tadinya tebagi tiga, sekarang jadi empat karena lapangan bulu tangkisnya bertambah satu. Di dekat lapangan terdapat sebuah tembok rumah yang dilukis, saya tidak lihat dengan jelas lukisan apa itu, namun nampak bagus.

Ada sekitar lima-enam rumah yang direnovasi menjadi sangat berubah. Saya baru sadar pula, ternyata ada yang membuka usaha fotocopy, warung makan baru, dan penjual pulsa. Semua itu hanya berjarak 70-80 meter dari rumah.

Pepohonan ditebangi, beberapa rumah yang dulu punya kebun sekarang berubah jadi garasi untuk parkir mobil. Bangunan yang dulu bobrok, sekarang telah dipugar.

Dalam perjalanan, saya bertemu banyak orang. Saya bertemu teman-teman lama, walau tak saya sapa semuanya. Saya melihat wajah-wajah yang sempat ter-‘Paste Shortcut’ di memori saya ketika TK, wajah-wajah yang familiar saat SD, dan wajah yang sempat saya ingat ketika SMP. Dan sekarang saya sudah SMA, aneh rasanya. People do evolving, in a straight line.

Kemana saja saya selama ini?

Oh iya, saya sekolah.

Saya dulu Pengurus OSIS.

Sebenarnya saya tak terlalu ingin menulis tentang ini, mungkin karena saya tidak terlalu suka fakta bahwa sekarang saya bukan lagi Pengurus OSIS.

Saya dulu anak biasa, berkawan dengan teman yang itu-itu saja, berkutat di tempat yang itu-itu saja, dengan kehidupan sekolah yang itu-itu saja. Saya tak terlalu peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar saya. Orang berseliweran, orang menangis-nangis, orang teriak-teriak, orang marah-marah, tak secuil pun peduli saya akan semua itu.

Sampai ketika saya membuka map coklat yang saya beli seharga 5 ribu rupiah. Map yang saya beli cuma karena teman-teman saya juga membelinya. Mendapati berlembar-lembar kertas berisi berbagai macam persyaratan dan tetek bengek lainnya, entah kenapa saya merasa bertemu dengan teman lama, ‘tantangan’.

Sebegitu susahnya cuma untuk memakai jas itu?

Yes. And all I can say now, it was worth.

Semua proses yang dianggap orang sebagai lelucon, anekdot, atau mungkin hiperbol, telah membuat saya berkembang (dan mungkin bertumbuh) menjadi seseorang yang mampu memaknai. Bahwa segala hal di dunia ini tak ada yang hanya sekedar lewat, semua punya maksud dan makna, hanya kita yang terlalu malas untuk menyingkapnya.

Dan setahun saya bersama 28 orang lain di ruangan sempit itu, tentu punya maksud dan makna.

Senyum, senang, tawa, canda, ria, muram, lara, sedih, tangis, duka, muak, sebal, kesal, teriak, amarah, jatuh cinta, patah hati, jatuh cinta lagi, selisih pendapat, tengkar, ide, 

membuat kami jadi keluarga.

Namun adakah yang lekang dimakan waktu?

Kami memang keluarga, dan sekarang saatnya untuk keluarga baru. Kereta generasi akan terus berjalan di atas waktu sebagai relnya. Kita boleh mengukir di atas batu, tapi tak bisa salahkan hujan yang mengikis dan lumut yang menutupi.

Maka Netradhiira Pattvisekra, inilah akhir. Dan setiap akhir adalah permulaan yang baru. Selalu ada pelangi setelah hujan, selalu ada terang setelah gelap, selalu ada pagi setelah malam.

Lihat mereka yang telah kita didik, berlari ke atas bukit membawa pagi yang baru.

Mari temukan pagi kita masing-masing.

Muhammad Pranasa sudah di Universitas Indonesia, Ayu Rahmatini sudah di Swiss. Semoga menjadi pertanda bahwa pagi kita nanti akan indah.

Sekarang saya bisa solat dhuha ketika istirahat pertama, mengulang pelajaran ketika istirahat kedua, sampai di rumah sore hari sehingga saya tidak lagi merasa asing dan tertinggal atas perubahan di lingkungan saya sendiri. Saya tak lagi perlu berlari menyongsong peluit. Sekarang, saya hanya perlu berlari kearah masa depan saya sendiri.

Terima kasih untuk setahun yang indah, teman. 

Demisioner bukan kiamat. Like what Muhammad Rifqi said in his message,

…kita belum selesai dan tak pernah selesai.

Air mata sudah seharusnya membawa perubahan, jangan biarkan mereka cuma mengalir dan jatuh.

Dan saya pun kembali ke kehidupan yang itu-itu saja. Tapi bukan berarti tak bermakna, kan?

Netradhiira Pattvisekra 14.

Seniorita

August 2, 2009

So it’s come to the day when i can finally write something. Yeah it’s been a while, a really long ‘while’, since i decided to take a short break of blogging. Maybe because i feel too happy for the last couple months, hha. Thanks to her.

Anyway, that’s not the topic.

Well obviously, i should’ve wrote this from like, thousands of hours ago.

It is about SENIORITAS. But since i will only write about myself, which means it becomes singular and not plural,  let’s cut the ‘s’. So i gave the title, SENIORITA

Ya, tanpa terasa, umur gue sudah semakin menua. Tujuh belas tahun sudah gue memijak kaki di ranah Indonesia. Dan sekarang, lagi-lagi tanpa terasa, sudah saatnya mengunyah bangku sekolah kelas 3.

Lah terus? Waktu SMP juga pernah kelas 3 kan? SD juga.

Karena sekarang, gue kelas 3 SMA. Strata paling ujung dalam pendidikan dasar. Tahun terakhir gue menyandang status sebagai siswa. Masa terakhir dimana gue tidak perlu memikirkan masa depan. 365 hari terakhir gue memakai pakaian yang sama setiap hari dalam sebuah intitut (kecuali gue nanti jadi PNS). Waktu-waktu terakhir gue untuk memanggil seseorang dengan sebutan ‘guru’ sebagai status formalnya. Dan yang penting (penting=paling penting) yaitu, TAK ADA LAGI MAIN-MAIN.

Kalau malas belajar, gue gak akan dapet apa yang gue mau. Tak seperti waktu gue kelas 3 SMP. Leha-leha tapi bisa masuk 81. Sampai sekarang gue masih ngerasa, Allah memberikan hidup yang terlalu mudah buat gue. Dari kecil selalu dapat apa yang dimau, with just a little or no effort.

Apa jangan-jangan malah sekarang atau dimasa depan nati ya gue bakal disusahinnya?

Salah satu pemikiran yang gue takutin banget bakal kejadian. Mudah-mudahan sih cuma pemikiran negatif semata.

So what should i do now?

Setelah di kelas 2 gue aktif berkegiatan non-akademik, sekarang waktunya mengambil kembali setahun yang hilang, me-refresh setahun yang telah lewat, dan menghadapi setahun di depan. Kalau menyesal sekarang ‘kemana aja gue kemaren?’, kayaknya udah terlambat dan buang-buang waktu, jadi sebaiknya sekarang gue mempersiapkan diri, for everything.

Sebentar lagi, gue bakal melepas atribut Pengurus OSIS dan Paskibra. Setelah itu, kembali jadi murid biasa, yang kerjanya menuntut ilmu dan pulang cepat kecuali kalau ada les. Sounds boring huh?

Dan sekarang pertanyaan yang lagi ngetrend adalah,

Mau masuk mana?

Dan jawaban saya yang tak kalah ngetrend adalah,

Masuk surga lah

Bukan itu. Saya sudah menentukan pilihan, bahwa nantinya saya akan mengambil IPC. Dan pilihan pertama adalah FISIP UI. Silakan menertawai atau menghujat karena saya mengambil jurusan IPS. Maaf gue udah kebal sama omongan orang. Ini tujuan gue, dan tidak akan berubah cuma karena komentar-komentar miring orang di sekitar gue.

Dan jujur, gue belum nentuin pilihan kedua. Kemungkinan sih teknik, yang ada hubungannya sama komputer. But i’m still observing, so i haven’t decide yet.

Sebagai seorang senior sekarang, gue harus bisa ngasih contoh sama adik-adik kelas. Senior is not about being ‘the strongest’, having the ‘podium’ or ‘tenda sosro’, wearing short sleeves, tease our juniors, or do everything you like.

Senior is about being grown-ups.

ADIos!