Last Day Jakarta

July 23, 2010

Pas lagi makan, gak kepikiran kalau nantinya makanannya bakal habis.

Pas lagi jadi PO, gak pernah kepikiran kalau nantinya bakal demisioner.

Pas masih kecil, gak pernah kepikiran kalau hari ini akhirnya akan datang.

But it’s here, in front of my pesek nose.

I’m leaving my house.

Not just house, a home.

Well, what can we say? Time goes like flash. All we can catch is a glimpse.

This is the leap of faith.

This is a ‘good night’.

This is another ‘good morning’.

Leave to live my life.

Wish me luck!

(walaupun gue bukan perokok)

Advertisements

Pra

March 13, 2009

Alkisah di SMAN 81, ada satu acara yang sudah turun temurun entah sejak kapan, yang dinamakan LTUB (Lomba Tata Upacara Bendera). Acara yang memiliki tujuan mulia agar murid 81 bisa mengikuti upacara dengan baik, jadi diadakanlah acara ini buat kelas X.

Ya secara fakta, memang tujuan itu sangat sulit dicapai.

Ini memang bukan acara besar,

tapi buat gw sangat emosional.

Kenapa emosional? Karena persaingannya ketat dan menyangkut gengsi antar kelas. Karena yang mengajar adalah alumni kelas X nya. Karena gw sekarang adalah Pengurus OSIS.

Setiap kali berbicara LTUB, pikiran saya selalu mengawang-awang ke momen itu, 1 tahun 13 hari yang lalu.

Saya ingat bagaimana kita telah berlatih keras. Saya ingat bagaimana kita semua berkumpul pagi-pagi dekat RS Harum untuk latihan terakhir kalinya. Saya ingat bagaimana saya berkeringat dingin memasuki sekolah. Saya ingat bagaimana kita ramai-ramai panik karena upacara mau mulai tapi masih belum ganti baju. Saya ingat kita baris di belakang X-1, tetangga kita. Saya ingat bagaimana semua kelas terlihat panik, dan saling berbagi kepanikan itu. Saya ingat bagaimana kita masuk lapangan sambil disoraki massa. Saya ingat kita baris waktu upacara pembukaan. Saya ingat betapa lamanya kita menunggu giliran di kelas. Saya ingat bagaimana kita masih sibuk latihan di kelas. Saya ingat ketika kita sudah bosan latihan dan akhirnya tidur-tiduran menunggu giliran ke-6 dipanggil. Saya ingat kakak Rotterdam dengan senangnya memberitau kita kelas lain pada salah, yang bendera terbalik lah, terlilit. Saya ingat waktu mereka bilang X-1 itu bagus dan bakal jadi saingan berat, sepertinya kita memang jodoh.

Saya ingat waktu kita masuk ke lapangan.

Saya ingat waktu kita disoraki kelas XII yang ramai karena habis BTA.

I remember how good we were.

Saya ingat ketika kita sampai di belakang masjid, kita langsung lega. Saya ingat Bram danpas kita langsung tepar, dasar lemah. Saya ingat betapa lelah namun bahagianya kita, sudah memberi yang terbaik.

Saya ingat semua orang memuji kita. Saya ingat orang-orang berkata kita pasti juara, sampai saya muak mendengarnya.

Saya ingat kita tidak juara. Apapun.

Saya ingat semuanya sesunggukan. Saya ingat orang-orang pada mengumpat ‘jurinya buta!’. Saya ingat orang-orang pada marah merasa dicurangi, padahal bukan mereka yang lomba. Saya ingat ketika kontroversi itu hampir memecah perang di 81. Saya ingat kita dikambinghitamkan, padahal kita cuma anak kambing.

Saya ingat kekecewaan ketika tahu bahwa poin kita langsung dikurangi karena Surat Peringatan yang bahkan kita tak tau kalau kita dapat, dua malah.

Saya selalu ingat rasa sakit hati itu.

Dan itulah yang selalu memotivasi gw untuk melatih X-2. Gw ingat janji gw dan Rafie, ‘Sepuluh dua tahun ini harus menang!’.

Namun besok, gw sudah harus menanggalkan atribut alumni X-2. Gw harus jadi orang yang tetap netral. Bukan jadi Adi Kadarisman sebagai Discours, tapi sebagai Adi Kadarisman yang Pengurus OSIS, Pengurus Paskibra, dan Panitia LTUB.

Maaf Discours dan Tentacle, kalau gw jarang terlihat ngajar, jujur itu bukan mau gw, tapi dipaksa keadaan.

Maaf kalau besok gw udah gak dukung kalian lagi.

Ini hari terakhir saya sebagai seorang alumni X-2, so today I would say…

GO TENTACLE! LET US DO THE BEST AND LET GOD DO THE REST!

Dan buat  semua kelas lain yang tampil besok,

Selamat Bertanding.

One For The Money…

March 11, 2009

Ah.

Sebelumya, gw minta maaf yang sebesar dan sedalam-dalamnya, kalo update blog gw rada lama. Speedy is such an a** f**kin h**e provider.

Sebenernya sih gw yang salah.

Tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba tagihan internet bulan maret melonjak hingga 700 ribu rupiah!

Sekarang gw bener2 bingung mencari cara buat ngelunasinnya.

Pake duit lah…

Dari?

Ah.

Baru-baru ini HP Nokia 5310 Express Music yang telah menemani saya dalam kurang lebih 3 bulan terakhir HILANG. Tepatnya selasa kemarin.

Kok gak panik?

Ya sudahlah, udah hilang juga, kalau gw panik toh hpnya juga gak bakal balik sendiri. Jadinya sekarang gw kembali memakai Sony Ericsson W850i yang pernah menemani gw selama kurang lebih 2 tahun.

Tapi sayangnya dia sering error.

Kadang layarnya berubah sendiri jadi putih, kadang blank, kadang lag, kadang pulsanya abis.

Ah.

Jadi di smester 2 ini, gw akan sangat bermasalah dengan UANG.

Berikut daftarnya:

Iuran Panitia Cakrawala: kurang 250 rb lagi

Uang Kas kelas: 40 rb

Uang Kas PO: 30 rb an

Utang ke Memes (makan di Warmo): 13 rb

Utang ke yang lain2: Silakan sebut sendiri, gw lupa

Beli Binder: 150 rb

Beli HP baru: Diatas 2 jt

Gitar Listrik: Diatas 2 jt

(Kalau ada yang salah atau kurang atau berlebih, tinggalkan komen supaya postingan ini bisa diedit)

Sepertinya 3 hal terakhir harus dicoret dulu, yang terpenting sekarang adalah melunasi utang-utang itu.

Ah.

Jadi maaf sekali kalau akhir-akhir ini, gw sangat sensitif masalah mengeluarkan uang.

Jadi maaf sekali kalau gw jadi jarang bikin postingan baru, karena mungkin internet gw bakal diberhentikan (posting ini aja nyolong di jam TIK). Gw juga memikirkan kemungkinan untuk mengomersilkan blog, mungkin pasang ads atau semacamnya.

Jadi maaf sekali kalau gw terlihat sering murung, berarti gw lagi berpikir gimana caranya untuk menghasilkan atau menghemat uang.

Jadi maaf sekali kalau gw jadi matre.

Jadi, maaf.

Ah.

Half-way, Whole-life

February 17, 2009

It has been 6 months, huh?

I’m afraid.

Afraid of what?

I afraid that after everything’s gone, I would drown in regret. Regret for myself, that I wasn’t able to give my best.

So you’re not afraid of losing friends, losing the responsibilities, and losing all the attributes?

Nope, not at all, sir.

Why?

They would’nt gone, they would stay in our own heart.

Hmm, I see you are such a compilcate person, aren’t you?

Might be, sir. I am complex, so I would be the only person who can be ‘me’. Nobody could.

What do you feel about the past 6 months?

We could’ve done so much better. We deserve more. But our own problem seems to put us away from ‘the top’ that we could reach.

So you don’t feel any satisfaction?

Of course there are some great things that we’ve done, but I guess it’s just not enough, for me. Enough to make me satisfy. Enough to make everyone else recognize us. Enough to be enough.

Any last words?

Care is always the key. We don’t have much time left, so let us give our best until the time kill us. But again, we shall not be killed. We’ll stay as one, forever and evermore. Each and everyone, the twenty nine. Because we are…

Belum sempat si relawan itu menyelesaikan kalimatnya, timah panas keburu menembus kepalanya. Mayat itupun tergeletak diam dengan kepala penuh darah, di kursi reyot. Para sersan itu senang, mereka telah dapat apa yang mereka inginkan: informasi. Si penembak berteriak sambil menggenggam gelas anggurnya.

Let us have a toast tonight! And tomorrow, all of our big enemies will go down, bending on their knees! We Will Triumph!

Ruangan itu pun riuh dengan gemuruh tepuk tangan.

Terima Kasih, Netradhiira Pattvisekra.

Sajak Marah-Marah

February 10, 2009

Awak sejenak, termangu di dermaga

Diam, awak sedang buang hati!

Nonton bangkai ikan dimakan pelikan

Mata ikannya melototi laksana mau keluar, seakan ia berteriak pada awak

“Jangan cuma nonton!

Apa karena saya cuma bangkai, lantas tak perlu ditolong?

Buangan!”

Jelas awak tak perlu tempurung tutupi awak yang sehina kaktus ini

Awak cuma butuh kulit kacang, oh takkan awak lupa itu kulit

Awak bisa terusan lompat, pikir yang lain tak usah

Tapi sadar awak, nanti bakal jatuh, kebawah jatuhnya

Sakit lah kepastian

Hemat otak awak yang sempit ini,

Buat apa cari makan? Toh mati juga nanti

Buat apa cari duit? Toh tidur nanti di neraka

Buat apa peduli orang? Toh Tuhan hitung pahala masing-masing, toh?

Toh? Toh?

Pergi saja awak dari dermaga ini

Bau bangkainya bak tusuk hidung awak, padahal sudah terbolong

Tak ada gunanya mari disini

Awak memang belum genap setengah

Tapi sudah muak

Payah.

Mual,

Tapi awak telan lagi muntahnya.

The Man

January 26, 2009

(Gw yakin pasti pada nungguin postingan TO dari gw, hahaha. Maaf kalau ga sesuai harapan)

I’m holding on an important role. It’s pretty much that I’m responsible for almost everything corelated to Solaris.

I’m the one who would gather them all in one spot.

I’m the one who’s planning the show.

I’m the one who become ‘the leader’ in the field.

I’m the one who had to get up earlier than everyone else to prepare everything.

I’m the one who had to set up the route and make sure everyhing stays fine and everyone is at where they should be.

I’m the one who had to go through the rain in the dark, back and forth, to make sure everyone get what they wanted.

I’m the one who’s holding the light, with other men, go to each house to have a ‘war for the dignity’.

I’m the one who took the loser’s dignity.

I’m the one who argued with the best group, and I congrats the group.

I’m the one who should’ve thanked them, but I didn’t, thanks to ‘cloudy skies’.

I’m the one who would always stand until the end.

I’m the one who had to wear the same mask everytime.

I’m the one who would always be hated for my job.

I’m the one who’s holding the responsible for what they would become in future.

I’m the one.

I’m the man.

I’m Adi Kadarisman.

Luntur

January 20, 2009

ingin teriak,

saya masih di gurun.

ingin nangis,

saya masih laki-laki

ingin dibakar,

saya masih di kutub.

ingin tenggelam,

saya masih di gunung.

ingin pingsan,

saya masih di barisan.

ingin baik,

saya masih narapidana.

ingin menulis,

saya masih di jaman batu.

ingin sholat,

saya masih di mall.

ingin sukses,

saya masih di kampung.

ingin dikenal,

saya masih miskin.

ingin korupsi,

saya masih di KPK.

ingin mati,

saya masih ngutang.

ingin digantikan,

tugas saya belum selesai.

dan tak akan selesai, kecuali waktu menyelesaikan saya.