Sekra 14

August 21, 2009

Dalam perjalanan menuju masjid untuk solat siang tadi, saya menyadari sesuatu.

Lingkungan rumah saya berubah, banyak.

Lapangan yang tadinya tebagi tiga, sekarang jadi empat karena lapangan bulu tangkisnya bertambah satu. Di dekat lapangan terdapat sebuah tembok rumah yang dilukis, saya tidak lihat dengan jelas lukisan apa itu, namun nampak bagus.

Ada sekitar lima-enam rumah yang direnovasi menjadi sangat berubah. Saya baru sadar pula, ternyata ada yang membuka usaha fotocopy, warung makan baru, dan penjual pulsa. Semua itu hanya berjarak 70-80 meter dari rumah.

Pepohonan ditebangi, beberapa rumah yang dulu punya kebun sekarang berubah jadi garasi untuk parkir mobil. Bangunan yang dulu bobrok, sekarang telah dipugar.

Dalam perjalanan, saya bertemu banyak orang. Saya bertemu teman-teman lama, walau tak saya sapa semuanya. Saya melihat wajah-wajah yang sempat ter-‘Paste Shortcut’ di memori saya ketika TK, wajah-wajah yang familiar saat SD, dan wajah yang sempat saya ingat ketika SMP. Dan sekarang saya sudah SMA, aneh rasanya. People do evolving, in a straight line.

Kemana saja saya selama ini?

Oh iya, saya sekolah.

Saya dulu Pengurus OSIS.

Sebenarnya saya tak terlalu ingin menulis tentang ini, mungkin karena saya tidak terlalu suka fakta bahwa sekarang saya bukan lagi Pengurus OSIS.

Saya dulu anak biasa, berkawan dengan teman yang itu-itu saja, berkutat di tempat yang itu-itu saja, dengan kehidupan sekolah yang itu-itu saja. Saya tak terlalu peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar saya. Orang berseliweran, orang menangis-nangis, orang teriak-teriak, orang marah-marah, tak secuil pun peduli saya akan semua itu.

Sampai ketika saya membuka map coklat yang saya beli seharga 5 ribu rupiah. Map yang saya beli cuma karena teman-teman saya juga membelinya. Mendapati berlembar-lembar kertas berisi berbagai macam persyaratan dan tetek bengek lainnya, entah kenapa saya merasa bertemu dengan teman lama, ‘tantangan’.

Sebegitu susahnya cuma untuk memakai jas itu?

Yes. And all I can say now, it was worth.

Semua proses yang dianggap orang sebagai lelucon, anekdot, atau mungkin hiperbol, telah membuat saya berkembang (dan mungkin bertumbuh) menjadi seseorang yang mampu memaknai. Bahwa segala hal di dunia ini tak ada yang hanya sekedar lewat, semua punya maksud dan makna, hanya kita yang terlalu malas untuk menyingkapnya.

Dan setahun saya bersama 28 orang lain di ruangan sempit itu, tentu punya maksud dan makna.

Senyum, senang, tawa, canda, ria, muram, lara, sedih, tangis, duka, muak, sebal, kesal, teriak, amarah, jatuh cinta, patah hati, jatuh cinta lagi, selisih pendapat, tengkar, ide, 

membuat kami jadi keluarga.

Namun adakah yang lekang dimakan waktu?

Kami memang keluarga, dan sekarang saatnya untuk keluarga baru. Kereta generasi akan terus berjalan di atas waktu sebagai relnya. Kita boleh mengukir di atas batu, tapi tak bisa salahkan hujan yang mengikis dan lumut yang menutupi.

Maka Netradhiira Pattvisekra, inilah akhir. Dan setiap akhir adalah permulaan yang baru. Selalu ada pelangi setelah hujan, selalu ada terang setelah gelap, selalu ada pagi setelah malam.

Lihat mereka yang telah kita didik, berlari ke atas bukit membawa pagi yang baru.

Mari temukan pagi kita masing-masing.

Muhammad Pranasa sudah di Universitas Indonesia, Ayu Rahmatini sudah di Swiss. Semoga menjadi pertanda bahwa pagi kita nanti akan indah.

Sekarang saya bisa solat dhuha ketika istirahat pertama, mengulang pelajaran ketika istirahat kedua, sampai di rumah sore hari sehingga saya tidak lagi merasa asing dan tertinggal atas perubahan di lingkungan saya sendiri. Saya tak lagi perlu berlari menyongsong peluit. Sekarang, saya hanya perlu berlari kearah masa depan saya sendiri.

Terima kasih untuk setahun yang indah, teman. 

Demisioner bukan kiamat. Like what Muhammad Rifqi said in his message,

…kita belum selesai dan tak pernah selesai.

Air mata sudah seharusnya membawa perubahan, jangan biarkan mereka cuma mengalir dan jatuh.

Dan saya pun kembali ke kehidupan yang itu-itu saja. Tapi bukan berarti tak bermakna, kan?

Netradhiira Pattvisekra 14.

Advertisements

Seniorita

August 2, 2009

So it’s come to the day when i can finally write something. Yeah it’s been a while, a really long ‘while’, since i decided to take a short break of blogging. Maybe because i feel too happy for the last couple months, hha. Thanks to her.

Anyway, that’s not the topic.

Well obviously, i should’ve wrote this from like, thousands of hours ago.

It is about SENIORITAS. But since i will only write about myself, which means it becomes singular and not plural,  let’s cut the ‘s’. So i gave the title, SENIORITA

Ya, tanpa terasa, umur gue sudah semakin menua. Tujuh belas tahun sudah gue memijak kaki di ranah Indonesia. Dan sekarang, lagi-lagi tanpa terasa, sudah saatnya mengunyah bangku sekolah kelas 3.

Lah terus? Waktu SMP juga pernah kelas 3 kan? SD juga.

Karena sekarang, gue kelas 3 SMA. Strata paling ujung dalam pendidikan dasar. Tahun terakhir gue menyandang status sebagai siswa. Masa terakhir dimana gue tidak perlu memikirkan masa depan. 365 hari terakhir gue memakai pakaian yang sama setiap hari dalam sebuah intitut (kecuali gue nanti jadi PNS). Waktu-waktu terakhir gue untuk memanggil seseorang dengan sebutan ‘guru’ sebagai status formalnya. Dan yang penting (penting=paling penting) yaitu, TAK ADA LAGI MAIN-MAIN.

Kalau malas belajar, gue gak akan dapet apa yang gue mau. Tak seperti waktu gue kelas 3 SMP. Leha-leha tapi bisa masuk 81. Sampai sekarang gue masih ngerasa, Allah memberikan hidup yang terlalu mudah buat gue. Dari kecil selalu dapat apa yang dimau, with just a little or no effort.

Apa jangan-jangan malah sekarang atau dimasa depan nati ya gue bakal disusahinnya?

Salah satu pemikiran yang gue takutin banget bakal kejadian. Mudah-mudahan sih cuma pemikiran negatif semata.

So what should i do now?

Setelah di kelas 2 gue aktif berkegiatan non-akademik, sekarang waktunya mengambil kembali setahun yang hilang, me-refresh setahun yang telah lewat, dan menghadapi setahun di depan. Kalau menyesal sekarang ‘kemana aja gue kemaren?’, kayaknya udah terlambat dan buang-buang waktu, jadi sebaiknya sekarang gue mempersiapkan diri, for everything.

Sebentar lagi, gue bakal melepas atribut Pengurus OSIS dan Paskibra. Setelah itu, kembali jadi murid biasa, yang kerjanya menuntut ilmu dan pulang cepat kecuali kalau ada les. Sounds boring huh?

Dan sekarang pertanyaan yang lagi ngetrend adalah,

Mau masuk mana?

Dan jawaban saya yang tak kalah ngetrend adalah,

Masuk surga lah

Bukan itu. Saya sudah menentukan pilihan, bahwa nantinya saya akan mengambil IPC. Dan pilihan pertama adalah FISIP UI. Silakan menertawai atau menghujat karena saya mengambil jurusan IPS. Maaf gue udah kebal sama omongan orang. Ini tujuan gue, dan tidak akan berubah cuma karena komentar-komentar miring orang di sekitar gue.

Dan jujur, gue belum nentuin pilihan kedua. Kemungkinan sih teknik, yang ada hubungannya sama komputer. But i’m still observing, so i haven’t decide yet.

Sebagai seorang senior sekarang, gue harus bisa ngasih contoh sama adik-adik kelas. Senior is not about being ‘the strongest’, having the ‘podium’ or ‘tenda sosro’, wearing short sleeves, tease our juniors, or do everything you like.

Senior is about being grown-ups.

ADIos!

Pangeran Kecil

June 14, 2009

Karena (akhirnya) gue sedang punya waktu senggang, bakal gue manfaatin untuk kembali menulis sesuatu di blog yang sudah berdebu ini.

Apa yang akan gue ketik?

It’s about ‘having’.

Have you read a book called ‘Little Prince’? I haven’t, haha. Tapi gue beberapa waktu yang lalu sempat mendengar review buku ini di Hard Rock FM, dibawain sama Iwet dan Rahma, plus Mikael (bener gak ya?) dari komunitas Bunga Matahari. Gue sangat tertarik buat baca, tapi karena gue belum punya uang dan waktu buat beli bukunya, jadi gue search aja quotesnya di internet.

Little Prince berceita tentang seorang pangeran kecil (ya iyalah) yang tinggal di sebuah planet. Sepintas, buku ini terasa seperti buku anak. Bahasa yang penuh fantasi, gambar-gambar seperti di buku cerita memperkuat opini itu. Namun ternyata, di balik bahasa yang mendongeng itu terdapat makna-makna kehidupan yang seperti terabaikan manusia pada umumnya.

It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye.

Ya, hanya dengan hatilah kita bisa menyingkap dan menyelami makna-makna dalam buku ini. Bukan dengan sekedar dibaca dan diutak-atik dengan logika.

Buku ini menggunakan perspektif anak kecil. Ya secara judulnya Little Prince. Anak-anak merupakan makhluk yang masih polos, jujur, dan jalan pikirnya tidak sekompleks orang dewasa. Pengunaan kata-kata di buku ini seakan menambah dalam pemikiran itu.

Grown-ups love figures. When you tell them that you have made a new friend, they never ask you any questions about essentail matters. They never say to you, “What does his voice sound like? What games does he love best? Does he collect butterflies?” Instead, they demand: “How old is he? How many brothers has he? How much does he weigh? How much money does his father make?” Only from these figures do they think they have learned anything about him.

To forget a friend is sad. Not every one has had a friend. And if I forget him, I may become like the grown-ups who are no longer interested in anything but figures…

What an extraordinary book.

Banyak banget kata-kata indah yang membuat gue semakin menyukai buku ini bahkan sebelum membaca, kayak misalnya,

“All men have the stars,” he answered, “but they are not the same things for different people. For some, who are travellers, the stars are guides. For others they are no more than little lights in the sky. For others, who are scholars, they are problems. For my businessman they were wealth. But all the stars are silent. You–you alone–will have the stars as no one else has them–“

Dan ini bagian yang paling gue suka.

Jadi si Little Prince ini, punya sebuah bunga mawar yang dia letakkan di dalam toples kaca. Di planetnya, bunga ini sangatlah langka, mungkin hanya satu-satunya. Warnanya begitu cantik. Little Prince sangat mencintai bunga itu. Setiap hari ia bermain dengannya, menyiraminya, memandanginya berjam-jam.

Namun ketika ia sampai ke bumi, ia menemukan ratusan bunga mawar lainnya, dengun bentuk, warna, dan keindahan yang sama layaknya mawar kepunyaannya. Ia merasa sedih. Apa yang spesial dari mawar milikku? Sama saja seperti ratusan bunga lain di planet ini…

And so, here is my favourite quote. You can interpret it in your own ways. For me, it’s the one that made me realize what ‘having’ is. The one that explains what ‘loving’ really is,

It is the time you have wasted for your rose that makes your rose so important. You become responsible , forever, for what you have tamed. You are responsible for your rose… 

You are beautiful, but you are empty. One could not die for you. To be sure, an ordinary passerby would think that my rose looked just like you–the rose that belongs to me. But in herself alone she is more important than all the hundreds of you other roses: because it is she that I have watered; because it is she that I have put under the glass globe; because it is she that I have sheltered behind the screen; because it is for her that I have killed the caterpillars (except the two or three that we saved to become butterflies); because it is she that I have listened to, when she grumbled, or boasted, or even sometimes when she said nothing. Because she is my rose.

The Yellowstrings

May 10, 2009

Assalamualaikum!

Hah, gue mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk kembali membuat sebuah artikel. Setelah kemaren bolak-balik jakarta-bekasi di HUT Labiba Hanani yang ke 17, barusan bolak-balik Jakarta-Puncak buat survey tempat.

Sebenernya sih tinggal duduk aja di mobil, tapi karena semobil dengan orang-orang tolol, dan guenya juga tolol, maka survey tadi isinya cuma gelak tawa, dan wisata kuliner. Dan teori gue kembali terbukti, UDARA DINGIN MEMBUAT MANUSIA LEBIH KONSUMTIF.

So, what’s up with the title?

Oke, gue jelasin. Marilah kita sambut,

The Yellowstrings!

Band yang mencoba menjajaki jalan panjang menuju ketenaran ini digawangi oleh Rein yang berceloteh pada mike, Desak dan Tyo sebagai pemetik dawai gitar, Dika penggebuk drum. Dan tentu saja saya sendiri (masa berdua), Adi Kadarisman sebagai pembetot bass.

Kita berlima bergabung buat gigs kreasinya anak-anak 81, Mengusik Musik, tanggal 19 April kemaren, sehari sebelum UAN. Ya bodo amat, gue gak UAN juga. Tadinya Yellowstrings merupakan grup dengan format duo-akustik, gitar dan vokal. Tapi si Desak pengennya main full band di gigs. Jadilah dia hunting personil, dan gue salah satu yang terjaring buat jadi bassis. Yowes.

Vokalis lamanya The Yellowstrings, Janit, pindah ke Surabaya. Jadilah si Desak ngegandeng Rein buat jadi vokalisnya. Dan pas gigs kemaren, si Janit lagi ada di Jakarta, jadilah kita menduetkan Janit dan Rein di satu panggung buat main lagu Drew yang judulnya Unromantic.

Sebelum gigs, gue belum pernah latihan bareng Rein, apalagi Janit. Jadi pas naik panggung itulah pertama kali kita main bareng. Untungnya lancar.

Dan Myspace nya baru aja diupdate 1 lagu baru, judulnya Biar, dengan format full band tadi. So be sure to check out The Yellowstrings on Myspace! Dan Jangan Lupa kasih Komen! Kalau mau komen disini juga gapapa!

ADIos!

CAPSis

May 3, 2009

Sebelum masuk ke intinya, gue mau pamer sebentar.

PADUS SMAN 81 JUARA 1 MEN!

Haha, gak sia-sia dah latian ngambil jam pelajaran (padahal emang maunya cabut). Gapapa lah sombong sedikit. Tak sombong berarti tak bisa.

Oh iya, juaranya di lomba Rhapsodie with Scraft, rancangannya teman-teman seperjuangan di SMA 61. I have to say, it’s a decent work guys! Buat tatra, sori ya gak nonton tadi, gara-gara digoda kerak telor, haha. Gue yakin kalian pasti bagus kok, cuma kurang hoki.

Oke, kembali ke yang mau gue bahas.

Tanggal 17 Agustus sudah tinggal menghitung hari. Tapi gue gak mau ngitungin, males juga. Yang berarti pula, sebentar lagi gue akan melepas jabatan sebagai Pengurus OSIS masa bakti 2008-2009.

Hari Kamis kemarin, Sekra mengadakan presentasi di aula, menampilkan slide-slide kreasi Muhammad Rifqi. Dan gue sempat berkecamuk melihatnya.

So, here we are, getting closer to the day that we thought would never come…

Ada satu pertanyaan dari salah satu penonton waktu itu.

Kalau jadi capsis harus botak kak?

Hal sama yang gue pikirkan setahun lalu. Apa hubungannya antara model rambut dan jadi PO? Sampai sekarang memang gue sendiri belum menemukan sebuah alasan konkrit selain untuk kerapihan. Yang gue percaya saat ini adalah kalau dulu gak botak, gue gak bakal kayak sekarang ini. Semua proses yang gue alami waktu itu, membentuk kepribadian gue yang sekarang. Dan gue bangga akan hal itu.

Menjadi capsis adalah momen-momen indah yang gak mungkin bakal gue alami lagi di tempat atau organisasi lain. Sekarang jadi tugas gue untuk mentransfer momen indah itu ke adik kelas gue.

Jika tidak ada aral melintang, besok sudah mulai dibuka stand pendaftaran Capsis di depan sekretariat OSIS. Jadi buat para Solaris, jangan ragu ataupun sungkan buat datang, dan mengambil formulir tentunya. Gue percaya angkatan kalian punya banyak potensi, dan nantinya sanggup buat jadi ‘pengelola’ sekolah ini di kelas 11 nanti.

Selamat pagi, Capsis!

Selamat malam, Sekra.

Elect

April 11, 2009

(Telat banget memang, baru sekarang ngebahas ginian. Tapi lebih baik telat telat daripada enggak sama sekali kan? Lebih baik gak telat lah)

Kelahiran gue yang ada pada tanggal 14 Juli 1992 menghambat gue untuk ikut pemilu tahun ini. Yah, padahal gue pengen ikut, paling enggak buat menandakan bahwa gue sudah terjun ke kehidupan masyarakat. Dan tanpa parasut, jadi harus hati-hati.

Entah ini cuma perasaan gue atau gimana, tapi kayaknya pemilu tahun ini kurang ‘meriah’ dibandung tahun 2004. Kalau dari soal atribut caleg sih memang gak kalah, tapi lebih kepada gaung dari pemilu itu sendiri. Kayak kurang publikasi dan sosialisasi, apalagi sekarang kan sistemnya beda dibanding tahun lalu.

Sebagai seorang yang tidak ikut pemilu, tidak mengerti secara detil seperti apa pemilu, tidak berada di bangku parlemen, atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan pemilu, berarti gue adalah outsider, yang berarti juga mungkin tak pantas untuk memberi kritik karena tak tahu apa-apa. Namun begitu, justru kritik dari outsiders adalah kritik yang jujur, berdasarkan apa yang dilihat, dan bisa jadi adalah pelajaran yang berharga. Lihatlah kritik dari isinya, bukan penyampainya.

Ya, dan inilah poin-poin yang gue garisbawahi, secara harfiah.

1. Kebanyakan Partai

Banyak partai sebenarnya lebai. Lebih dari 30 adalah jumlah yang menurut gw terlalu banyak. Memang sih, ini menunjukkan kalau negara kita menganut demokrasi, dengan membiarkan orang-orang bebas bersuara dan ikut terjun ke dunia politik. Tapi justru partai-partai yang ada jadi kurang efektif.

Ada partai yang memiliki ideologi sama, tapi menolak untuk bergabung, atas alasan gengsi. Ada pula partai-partai kecil yang merupakan ‘puing-puing’ dari partai besar yang sudah ada. Ada pula partai yang pemilu lalu kalah, sekarang pakai nama baru, padahal orangnya itu-itu juga. Lalu tujuan adanya partai buat apa?

Partai bukan lagi menampung aspirasi politik, namun jadi ‘kendaraan politik’ bagi kaum beruang (punya uang). Mencoba menggapai kekuasaan, dengan bantuan visi misi palsu dan sedemikian atribut, serta kampanye tak sehat yang berimbas pembodohan rakyat.

Seperti inikah orang-orang tertinggi Indonesia nantinya?

Menurut gue pribadi, 15 partai saja sudah lebih dari cukup untuk menampung ideologi-idelogi yang ada. Jumlah tersebut ideal, tidak seperti sekarang, yang akhirnya berefek pada pemborosan kertas pemilu. Partai-partai itu memakan tempat di kertas suara, berikut calegnya (yang kebanyakan namanya gak dikenal, jadi malas milihnya). Kalau partainya dikurangi, bayangkan berapa banyak pohon yang bisa diselamatkan karena berkurangnya jumlah kebutuhan kertas.

2. Kampanye Kotor

Kotor, dilihat secara estetika, ataupun ‘kotor’ dalam pelaksanaan.

Spanduk-spanduk, umbul-umbul, baliho, stiker, pamflet, pin, bros, kalung, bando (lah?) segala macam atribut bertebaran dijalan, tanpa mengindahkan unsur keindahan. Menutupi pohon, melintang kabel listrik, menjajahi tembok-tembok, mereka semua ada di setiap sudut. Wajar sih, mereka promosi, menjual diri supaya dikenal masyarakat, agar mereka bisa menang. Sudah sewajarnya dalam persaingan politik untuk berpromosi. Lalu?

Coba lihat pasca pemilu nanti, kota ini bakal semakin kumuh.

Dan sampai sekarang, masih bermunculan kasus kampanye ilegal, dengan membagikan uang atau sembako, biar dipilih rakyat kecil. Yang ketangkap basah cuma sedikit. Sisanya ketangkap kering? bukan. Sisanya berdalih ‘sedekah’.

Yang makin marak adalah kampanye menggunakan dunia maya. Blog, Friendster, Facebook, semua Social-linking Website diserang patriot-patriot kampanye dari berbagai panji parpol. Dan lagi-lagi, masih tetap kotor. Spam serta komentar-komentar kasar mewarnai dunia maya.

Baru-baru ini gw ngeliat di Facebook, sebuah perkumpulan yaitu ‘Say NO to Megawati. Dan gue MALU sama kelakuan orang-orang Indonesia. Karena merasa aman dan gak mungkin diserang di dunia maya, mereka berkomentar as delicious as forehead (seenak jidat) dengan kata-kata kasar. Tindakan yang sangat pengecut, dan tidak memberi solusi pula. Kritik sudah seharusnya disertai solusi, bukannya sok menggurui, atau sekedar mencaci. Dan ada pula beberapa anak 81 yang ikutan. Hadeh, terserah lah.

Bukan berarti gue pro Megawati, paling tidak gue akan menyampaikan ketidaksukaan gue terhadap dia, atau yang lain, dengan cara yang lebih terhormat. Jadi, baik pemilih maupun yang dipilih, mari sama-sama benahi diri.

3. Administrasi Berantakan

DPT sepertinya menjadi momok dalam event lima tahunan kali ini. Yang namanya ada 3 lah, atau gak ada sama sekali malah, banyak banget kejadian kayak gitu. Nyokap gue juga jadi golput gara-gara gak terdaftar. Bayangkan, nama istri bokap gue disitu malah jadi nama orang lain! Untung nyokap gue gak keburu mencak-mencak, jadi sampai detik ini gue gak broken home.

Dan tentunya masih banyak kekurangan-kekurangan lain yang harusnya bisa diperbaiki. Gak perlu sampai bagus banget lah, yang penting bisa menjangkau seluruh suara yang ada di Indonesia dan bisa diolah dengan baik pula.

Postingan gw yang ini emang rada ngebosenin, haha. Kayak artikel-artikel di majalah bisnis. Tapi ini satu merupakan bentuk kecil kepedulian gue terhadap negara tercinta ini. Selain itu, mudah-mudahan bisa menjadi langkah kecil dari perjalanan gue untuk menjadi Mahasiswa FISIP UI. Amin!

ADIos!

Lelaki

March 25, 2009

Maaf buat para penggemar yang sudah mengirimkan protes melalui surat ke ‘PO Box obox airnya diobox-obox’ karena blog gw yang ini sudah lama tak ada update.

…blog gw yang ini sudah lama tak ada update.

Emang ada blog yang lain?

Yep, now there is! Blog gw yang baru diberi nama ‘kaleidoskop’. Kalau mau lihat-lihat, silakan diklik.

Kok bikin blog baru? pindahan?

Iya, gw pindahan ke blog M.

Gak kok, kaleidoskop sendiri tujuannya bukan buat menghibur pembaca atau memberi informasi, tapi lebih kepada catatan hidup yang dikemas dan diremas-remas dengan kata-kata yang gemas sehingga menjadi emas. Kejadian-kejadian hidup yang digambarkan dengan tidak gamblang seperti blog ini. Selain itu juga menjadi sarana publikasi buah tangan gw sebagai penulis pengetik.

Coba diintip ya, kawan-kawan!

Blog gw dua-duanya aktif kok, gw bakal posting secara berhala.

Salah, maksudnya berkala.

Kembali ke judul. Apa yang mau gw bahas?

Yaitu tentang lelaki, dilihat dari sudut pandang gw sebagai lelaki yang telah menjalani pahit getirnya jadi ‘mahluk batangan’.

Ini cuma perspektif gw, gak semua yang gw tulis sesuai dengan kenyataan.

Nabi Adam, manusia pertama di dunia, adalah seorang lelaki. Ayat Al-qur’an mengatakan bahwa lelaki adalah imam, pemimpin. Sebagian agama juga mempercayai Tuhan mereka sebagai sesosok lelaki. 

Kenapa?

Tak tahu.

Lelaki dikatakan lebih menggunakan logika dibandingkan perasaan, sehingga berpikir lebih taktis. Lelaki dikatakan memiliki fisik yang lebih kuat dibanding perempuan, yang mampu membentengi mereka dari masalah dan cobaan yang bertubi-tubi menghujam. Lelaki dikatakan memiliki mental baja, sehingga mereka tidak akan berbelas kasihan, yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Lelaki terlahir untuk jadi pemimpin.

Bangga jadi lelaki? Tidak, soalnya teman yang lain juga kan lelaki.

Lelaki kebanyakan pendiam, dan tidak seperti perempuan yang dengan mudah bisa mendapat teman. Lelaki itu hidupnya ‘ugal-ugalan di jalan tol’. Lelaki lebih suka memenuhi ponselnya dengan games daripada foto. Lelaki jauh lebih mencintai sepak bola dibanding ketiaknya sendiri. Lelaki selalu ingin jadi lebih baik daripada bapaknya.

Tapi satu hal yang paling utama,

Lelaki itu harga dirinya tinggi.

Entah selembut apapun sifatnya, setenang apapun pembawaannya, sebijak apapun sikapnya, kalau diajak berantem dan diejek sebagai pengecut, mereka akan melayaninya. Karena harga diri lelaki terlalu tinggi. Mereka tidak akan mau malu didepan musuhnya. Mereka tidak akan terima dilecehkan yang lain.

Lelaki sejati itu harus kuat,

berotot kekar,

bermental baja,

tidak takut apapun.

Namun buat gw, lelaki sejati itu adalah lelaki yang siap menggadaikan harga dirinya untuk sesuatu yang jauh lebih baik dan bermanfaat.

Lelaki memang brengsek,

makanya gw gak suka lelaki…

ADIos!